Malam setelah pertemuan di perbatasan itu, langit di atas Pesantren Hidayatullah seolah kehilangan bintang-bintangnya. Zayn duduk di kursi kayu jati di ruang kerjanya yang remang-remang, menatap sebuah map cokelat tua berisi dokumen-dokumen lama dan foto keluarga yang sudah menguning. Di depannya, secangkir kopi hitam yang sudah dingin dibiarkan begitu saja. Pikiran Zayn berkecamuk. Suara Aisyah yang bergetar saat berbohong di bawah pohon trembesi tadi sore terus terngiang-ngiang. Ia melihat putrinya—putri yang lahir dari pengorbanan nyawa Juleha—sedang melakukan hal yang sama: membunuh impian dan hatinya sendiri demi orang lain. Aisyah, kamu terlalu mirip ibumu, batin Zayn perih. Tapi kebenaran yang dipendam di atas luka tidak akan pernah membuahkan ketenangan. Zayn tahu ia tidak bisa

