Lampu di ruang kerja Zayn masih menyala meski jarum jam sudah melewati angka sepuluh malam. Setelah kepulangannya dari kediaman Kiai Sepuh, Zayn tidak langsung menemui Aisyah yang baru tiba dengan mata sembab. Ia justru duduk diam, membiarkan keheningan pesantren menyelimuti hatinya yang sedang bergemuruh. Zayn tahu, Fathimah adalah bidadari kecilnya yang tak pernah sekali pun membantah. Fathimah adalah penyejuk hati yang selalu ia jaga agar tak tersentuh debu dunia yang kasar. Namun, melindungi seseorang dari kenyataan pahit tidak selamanya berarti menyelamatkannya. Terkadang, itu justru berarti membiarkannya membangun istana di atas pasir yang sewaktu-waktu akan amblas. "Fathimah, masuklah, Nak," panggil Zayn pelan saat ia mendengar ketukan ragu di pintu. Fathimah masuk dengan langkah

