Bab 62

1239 Kata

Satu hari menjelang akad nikah. Pesantren Hidayatullah seolah tidak pernah tidur. Cahaya lampu neon berpendar di setiap sudut, menerangi para santri yang masih sibuk merangkai melati dan menghaluskan taplak meja untuk acara esok pagi. Aroma bumbu pawon yang gurih meruap ke udara, beradu dengan wangi dupa cendana yang dibakar di kediaman utama. Namun, di dalam kamar kedua putri kembar itu, suasananya sangat berbeda. Sunyi yang tercipta bukan karena tidak ada suara, melainkan karena ada terlalu banyak hal yang tak berani diucapkan. Fathimah telah meminta izin kepada Zayn untuk melakukan tradisi siraman secara privat hanya berdua dengan Aisyah. Tanpa riuh rendah sanak saudara, hanya kakak dan adik. Zayn mengizinkannya dengan hati yang bergetar; ia tahu ini bukan sekadar mandi kembang, melai

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN