Bab 63

1102 Kata

Pagi itu, Pesantren Hidayatullah seolah dikepung oleh kabut tipis yang membawa aroma melati dan kegelisahan yang tak kasatmata. Matahari belum sepenuhnya naik, namun hiruk-pikuk di halaman utama sudah mencapai puncaknya. Barisan kursi kayu berukir telah tertata rapi, menghadap ke arah meja akad yang ditutupi kain beludru putih. Di atas meja itu, terdapat sebuah mikrofon yang seolah siap mengabarkan sebuah takdir baru. Di dalam kamar pengantin, suasana justru terasa hampa. Fathimah duduk di depan cermin, namun ia tidak sedang dirias. Ia justru sedang memegang jemari kakaknya, Aisyah, yang duduk mematung dengan wajah pucat pasi. Aisyah telah mengenakan kebaya putih tulang milik Fathimah—kebaya yang awalnya dijahit khusus untuk adik kembarnya. "Kak, bernapaslah," bisik Fathimah sambil merem

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN