Malam itu, hening pesantren terasa berbeda di dalam kamar yang kini menjadi saksi bisu bersatunya dua jiwa. Aroma harum dari ronce melati yang menjuntai di tiang ranjang kayu jati beradu dengan wangi dupa cendana yang dibakar tipis di sudut ruangan. Cahaya lampu kuning temaram menciptakan bayangan panjang di dinding, menambah kesan intim yang selama ini hanya menjadi angan-angan liar di tengah debu perbatasan. Aisyah duduk di tepi ranjang. Kebaya putihnya masih melekat, namun kancing-kancing di bagian belakang terasa mulai mencekik napasnya yang tak beraturan. Ia, yang biasanya garang memimpin relawan di medan tempur, kini mendadak lumpuh hanya oleh suara langkah kaki Ghara yang mendekat. Ghara perlahan menutup pintu kamar dan menguncinya. Bunyi klik kunci itu seolah menjadi genderang pe

