Aisyah tertawa hambar. "Hanya kurang tidur, Fat. Banyak urusan warga yang belum selesai. Sudah, kamu lanjut saja memilah undangannya." Aisyah berlari menuju kamarnya dan mengunci pintu. Dengan tangan gemetar, ia membuka amplop itu. Di dalamnya hanya ada secarik kertas kecil dengan tulisan yang terburu-buru, seolah ditulis dalam keadaan putus asa. "Saya tidak bisa bernapas di sini, Aisyah. Setiap kali mereka membicarakan dekorasi, setiap kali mereka menyebut tanggal itu, saya merasa seperti sedang menyiapkan peti mati saya sendiri. Saya akan menunggumu di perbatasan desa besok sore. Hanya lima menit. Saya hanya ingin mendengar kejujuranmu tanpa ada Abi Zayn di antara kita. Jika kamu tidak datang, saya akan menganggap kamu benar-benar ingin saya mati dalam pernikahan ini." Aisyah meremas

