BAB 54: Dinding Es di Tengah Terik Debu di Desa Wano biasanya terasa hangat, namun siang itu, bagi Aisyah, setiap partikel udara yang menyentuh kulitnya terasa seperti sembilu. Surat dari Fathimah yang terjatuh di tanah itu seolah menjadi garis pembatas yang sangat tebal antara dirinya dan Ghara. Nama yang tertulis di kertas itu—Gus Ghara—menghantam kesadarannya. Pria kaku yang menemaninya menembus badai, pria yang menjahit luka Bu Marni dengan tangan stabil, dan pria yang baru saja ia izinkan masuk ke dalam ruang paling rapuh di hatinya, adalah pria yang sama yang telah diterima oleh Fathimah sebagai takdirnya. Aisyah memungut surat itu dengan jari yang gemetar. Ia melipatnya kecil-kecil, lalu menyembunyikannya di dalam saku jaketnya, seolah-olah dengan menyembunyikan kertas itu, ia bi

