BAB 55: Getaran di Belahan Jiwa Pesantren Hidayatullah seolah memiliki detak jantungnya sendiri pagi itu. Harum bunga melati dari makam Juleha terbawa angin hingga ke serambi rumah utama. Namun, bagi Fathimah Az-Zahra, udara terasa begitu berat untuk dihirup. Sejak subuh, dadanya terasa sesak. Bukan sesak napas karena sakit, melainkan sebuah denyutan aneh yang sinkron dengan detak jantungnya. Setiap kali ia memejamkan mata, ia melihat bayangan abu-abu—sebuah perasaan hampa dan dingin yang amat sangat. Aisyah... kamu sedang apa di sana? batin Fathimah. Ia mencoba menghubungi kakaknya berkali-kali, namun hanya suara mesin yang menjawab. Ketakutan mulai merayapi hati Fathimah. Ia tahu Aisyah adalah api yang kuat, tapi api pun bisa padam jika dipaksa melawan badai sendirian. Fathimah tidak

