Bab 96

1490 Kata

Salju masih turun tipis ketika Niko akhirnya menarik diri perlahan. Bukan karena keinginan itu mereda, melainkan karena ia ingin memberi Lara ruang untuk bernapas—menenangkan detak jantung yang masih berpacu terlalu cepat. Dahi mereka tetap bersentuhan. Napas Lara tersengal pelan, bulu matanya basah, pipinya memerah bukan hanya oleh udara dingin, melainkan oleh perasaan yang baru saja ia izinkan masuk tanpa pertahanan. Ibu jari Niko mengusap punggung Lara, gerakannya stabil dan menenangkan. “Kita lanjut pulang,” ucapnya lembut, nyaris seperti bisikan. “Kamu butuh istirahat.” Niko menyentuh sejenak perut Lara yang terasa sedikit membuncit. Ada bagian yang sudah mengeras di sana. Niko tahu, itu adalah pembesaran rahim walau belum terlihat secara nyata. Lara lantas mengangguk kecil. Ia m

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN