Mobil melaju meninggalkan area hotel dengan kecepatan stabil. Jalanan masih basah sisa embun pagi, sementara langit menggantung kelabu pucat, seolah menahan sesuatu yang belum sempat dijatuhkan. Lara duduk tenang di kursi penumpang, namun ketenangan itu hanya tampak dari luar. Matanya menatap lurus ke depan, ke hamparan jalan yang perlahan memanjang dan menyempit di kejauhan. Tak ada satu pun kata keluar dari bibirnya sejak mereka masuk ke mobil. Bahkan napasnya terasa dijaga—pelan, teratur, seolah ia takut jika bernapas terlalu dalam, sesuatu di dadanya akan runtuh. Niko memperhatikan itu dari sudut matanya. Tangannya tetap mantap di setir, fokus menyetir, tapi perhatiannya terbelah. Ia mengenal diam Lara—diam yang bukan kosong, melainkan penuh. Terlalu penuh. Beberapa menit berlalu da

