Keesokan harinya… Dering telepon memecah kesunyian pagi. Suara itu tidak keras, tapi cukup untuk membuat Niko membuka mata. Sekilas ia menoleh—Lara masih tertidur, wajahnya tenang, tubuhnya merengkuh pinggangnya seolah tidak ingin berjarak sedetik pun. Niko bergerak perlahan, sangat hati-hati agar tidak membangunkan istrinya. Ia meraih telepon di nakas, melihat nama yang muncul. Roy. Rahangnya langsung mengeras. Ia menyambar mantel, bangkit dari ranjang dan keluar kamar tanpa menimbulkan suara. Begitu pintu tertutup, Niko menjawab panggilan itu. “Roy?” Suara di seberang langsung terdengar terburu-buru. “Tuan, maaf. Tuan Richard marah besar saat ini. Ia mengancam akan menemukan Tuan Niko dan menyeret Tuan pulang.” D.a.da Niko mengencang. Ia sudah menyiapkan diri untuk ini—tapi mend

