Pagi datang perlahan di Porvoo, tanpa alarm, tanpa suara tergesa. Cahaya pucat menetes masuk lewat celah tirai, memantul di lantai kayu dan dinding kamar yang hangat. Di luar, dunia masih sepi—salju tipis menempel tenang di ambang jendela, sungai bergerak perlahan, nyaris tak bersuara. Lara terbangun lebih dulu. Ada rasa asing yang langsung ia sadari begitu kesadarannya kembali penuh—hangat di telapak tangannya. Ia menunduk sedikit. Jarinya masih melingkar di tangan Niko, persis seperti yang ia minta semalam. Dan tangan itu masih ada. Tidak bergerak. Tidak ditarik. Tidak dilepas. Napas Lara tertahan sesaat. Dadanya mengembang pelan, lalu turun, seperti ia baru ingat cara bernapas dengan benar. Ia memejamkan mata sebentar, bukan untuk tidur lagi, tapi untuk memastikan bahwa rasa aman i

