Senja di Porvoo turun pelan, seperti seseorang yang berjalan tanpa suara. Cahaya keemasan mengalir di sepanjang deretan rumah kayu merah yang berjajar rapi di tepian sungai. Air mengalir perlahan, memantulkan sisa cahaya sore yang lembut. Udara dingin menggigit, tapi tidak menusuk—lebih seperti cara alam mengingatkan bahwa musim dingin di sini memang punya caranya sendiri untuk membuat orang diam. Setelah sempat membersihkan diri dan berendam air hangat untuk beberapa saat, kini Lara berjalan di samping Niko, langkahnya ringan, ada sorot kagum yang tidak bisa ia sembunyikan di matanya. Segalanya terasa seperti adegan yang hanya ada di dalam buku cerita. Dalam diam itu, ia akhirnya berhenti dan menoleh ke arah pria di sampingnya. “Mas … aku mau foto.” Suaranya pelan, hampir seperti per

