Keesokan Harinya Cahaya pagi jatuh lembut di kamar—pucat, keperakan, khas musim dingin. Perapian kecil di pojok ruangan masih menyala pelan, memberi kehangatan tipis yang terasa cukup untuk memulai hari. Lara terbangun lebih dulu. Ia menarik napas pelan, lalu bergerak hendak bangkit dari ranjang. “Nyenyak?” suara Niko terdengar rendah dari sampingnya—serak, khas orang baru bangun tidur. Lara menggeleng kecil. “Nyenyak. Cuma … badan aku agak—” Begitu ia coba menggeser pinggulnya untuk turun dari ranjang— “Ashh—” Ia meringis. Gerakan kecil itu saja cukup membuat rasa ngilu menjalar dari pinggang hingga lutut. Tubuhnya refleks menahan napas. Niko langsung menoleh, cepat, tanpa bertanya panjang. Tatapannya tidak kaget—lebih ke tajam, fokus, insting dokter dan suami muncul bersamaan.

