Bab 97

869 Kata

Richard berdiri mematung beberapa detik, lalu berbalik tajam. Tangannya menghantam meja. Bukan keras—tapi cukup untuk membuat gelas kristal bergetar dan isinya beriak. Napasnya berat, ditahan, lalu dilepas perlahan lewat hidung. Rahangnya mengeras, otot di pelipisnya berdenyut. Ia benci ketidakpastian. Ia benci kehilangan kendali. Dan lebih dari itu—ia benci kenyataan bahwa kali ini, sumber kekacauan itu adalah darah dagingnya sendiri. Niko. Putra yang sejak kecil sudah belajar menantang, tapi tak pernah sejauh ini. Richard meraih sandaran sofa, jemarinya mencengkeram kulit mahal itu seolah sedang mencekik leher seseorang. Matanya menatap lurus ke depan, kosong, tapi penuh perhitungan. Berani sekali kau, batinnya dingin. Menghilang menjelang pernikahan. Mempermalukanku di depan sem

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN