Jejak itu akhirnya muncul bukan sebagai alamat pasti, melainkan sebagai kesalahan kecil—terlalu kecil untuk disadari oleh orang biasa, tapi terlalu jelas bagi seseorang seperti Richard. Layar ponsel di tangannya menyala redup di ruang kerja yang temaram. Nama orang kepercayaannya muncul, disertai jeda yang lebih lama dari biasanya sebelum suara di seberang sana terdengar. “Lokasinya belum bisa kami kunci, Tuan,” kata suara itu hati-hati, nyaris berbisik. “Tapi kami menemukan transaksi asing. Sangat bersih, hampir tak terlacak. Hanya … gaya penghapusannya.” Richard menyipitkan mata. “Lanjutkan.” “Gaya itu hanya dipakai oleh Tuan Niko. Cara dia memotong jejak, mengaburkan rute, dan mematikan sistem pemantau tanpa merusak struktur. Dia … tidak sembarang lari, Tuan. Dia merencanakan ini.”

