Lara terbangun ketika pesawat berguncang halus. Cahaya redup menembus tirai kabin, memberi warna kebiruan di seluruh ruangan. Ia berkedip pelan, berusaha mengenali di mana dirinya berada. Suara mesin jet terdengar lembut di telinga, seperti desiran ombak yang jauh sekali. Beberapa detik ia diam, memandangi langit di luar jendela kecil. Awan-awan di bawah sana tampak bagai hamparan salju. Matahari baru muncul dari balik horizon, menyemburatkan cahaya jingga pucat yang menembus batas awan. Di sampingnya, Niko masih berbaring. Lengan pria itu melingkari pinggangnya, napasnya berat tapi stabil. Wajahnya terlihat lelah, meski tenang. Lara memandangi garis rahangnya yang tegas, lalu menunduk perlahan. Ada sesuatu di dalam dadanya yang bergetar — bukan lagi semata takut, tapi juga iba. Perlaha

