Acara syukuran kafe berlangsung hangat. Lampu gantung baru di ruang tambahan bagian depan memantulkan cahaya keemasan di dinding bertekstur kayu itu. Aroma kopi bercampur wangi kue hangat memenuhi ruangan. Tamu-tamu—keluarga dekat dan beberapa karyawan inti—masih duduk santai, sebagian tertawa, sebagian sibuk mencicipi menu baru yang disediakan. Zahra duduk di kursi khusus yang sudah disiapkan Arvin, dengan bantalan empuk di punggungnya. Ia tidak diizinkan berdiri terlalu lama. “Mbak Boss jangan capek,” goda salah satu staf. Arvin hanya tersenyum tipis dari samping istrinya. Mendekati akhir acara, setelah doa penutup selesai dibacakan, suasana mulai lebih tenang. Gelas-gelas hampir kosong, dan percakapan melambat. Arvin berdehem pelan. Tidak keras, tapi cukup untuk membuat beberapa

