Gel di perut Zahra belum sempat dibersihkan ketika realitas itu benar-benar meresap. Dua. Bukan satu. Dua bayi laki-laki. Dokter Hana mematikan suara detak dari mesin, tapi gema ritmenya seperti masih tertinggal di da-da mereka. “Baik,” kata dokter Hana dengan nada profesional yang lembut. “Sekarang kita bicarakan hal pentingnya.” Arvin langsung kembali fokus. Wajahnya yang tadi masih dipenuhi keterkejutan kini berubah serius. “Apa saja yang perlu kami siapkan, Dok?” Zahra menoleh sedikit. Suaminya tidak lagi terlihat linglung—ia sudah masuk ke mode siaga. “Karena ini kembar,” jelas dokter Hana, “kontrol akan lebih sering. Nutrisi harus lebih dijaga. Dan Zahra harus benar-benar membatasi aktivitas berat.” Arvin mengangguk tanpa ragu. “Kafe akan saya atur. Dia nggak perlu turun la

