Langit lebih cerah, dan angin bertiup pelan ketika mobil Arvin berhenti di depan sebuah klinik dua lantai dengan papan nama putih bertuliskan Klinik Ibu & Anak Hana. Bangunannya tidak terlalu besar, tapi halaman depannya tertata rapi—pot-pot bougenville merah muda berjajar di sepanjang pagar, dan suara gemericik air dari kolam kecil di sudut taman membuat suasana terasa tenang. Arvin turun lebih dulu, lalu membuka pintu penumpang dengan sigap. “Hati-hati, pelan-pelan Ibu Cantik,” katanya sambil menyodorkan tangan. Zahra terkekeh kecil. “Mas, aku cuma kontrol, bukan mau lomba maraton.” “Justru karena itu. Kamu bawa dua jantung sekarang, jadi harus lebih berhati-hati.” Zahra memutar bola mata bulatnya, tapi tetap menggenggam tangan suaminya. Perutnya yang sudah membulat besar membuat la

