“Iya,” Zahra mengangguk. “Semoga rezekinya juga ikut beda.” “Amin,” jawab Gilang mantap. "Dengan pojok outdoor ini, kafemu jadi makin keren Za. Nanti akan ditambahkan lagi beberapa pot tanaman hias, biar tambah cantik. Zahra mencatat tanaman hias yang sesuai dan memberikan daftarnya pada Gilang. "Terima kasih, Mas Gilang." Gilang mengangguk dan pamitan pulang. Zahra membicarakan rencana membuat syukuran kecil-kecilan, yang langsung Arvin setujui. Arvin berdiri dan mengulurkan tangan pada Zahra. “Sudah cukup. Waktunya pulang.” Zahra menerima tangannya dan pamitan pada Cici. Sebelum keluar, ia menoleh sekali lagi ke seluruh ruangan. Kafe itu kini terasa elegan. Di luar, udara malam lebih sejuk. Saat mereka masuk ke mobil, Zahra bersandar pelan. Arvin membantu Zahra masuk ke kursi

