Zahra tertawa. Mereka memilih warna-warna netral—krem, putih, abu lembut. Zahra menyentuh kainnya satu per satu, memastikan bahannya halus. “Jangan terlalu banyak,” Arvin mengingatkan. “Kita belum beli selimut.” “Nah, itu.” Di bagian perlengkapan tidur, Zahra memilih sendiri selimut bayi seperti yang sudah ia rencanakan sejak malam sebelumnya. Ia membandingkan bahan, meraba teksturnya. “Aku mau yang ini,” katanya akhirnya, menunjuk selimut beige dengan bordir kecil di sudutnya. “Kenapa yang itu?” tanya Arvin. “Karena lembut. Dan warnanya hangat.” Arvin tersenyum. Ia tahu, bagi Zahra, detail kecil adalah bentuk cinta. Saat mereka berjalan menuju kasir, Zahra tiba-tiba berhenti. Di sudut toko ada kursi goyang kayu khusus menyusui. Ia menatapnya lama. Arvin mengikuti arah pandan

