Pagi itu rumah terasa berbeda. Aroma sayur asem dan ayam goreng lengkuas memenuhi dapur bahkan sebelum Zahra benar-benar bangun dari tidurnya. Ia mengerjap pelan, mengusap perutnya yang kini sudah membulat jelas di usia tujuh bulan. Suara pintu depan terbuka dan ditutup terdengar dari lantai bawah, disusul suara riang yang sangat khas. “Om Arviiiin!” Zahra tersenyum sebelum benar-benar duduk. Itu pasti Alesha. Beberapa menit kemudian, Arvin muncul di ambang pintu kamar dengan wajah setengah panik dan setengah tertawa. “Kita kedatangan rombongan,” katanya. Zahra terkekeh pelan. “Ibu?” “Dan satu pasukan kecil.” Di ruang keluarga, suasana sudah seperti hari raya kecil. Ibu Arvin berdiri di dapur dengan celemek yang ia bawa sendiri dari rumah. Tangannya cekatan memindahkan lauk ke p

