Bab 39

1911 Kata

Malam itu, hampir semua lampu di lantai kantor sudah padam. Hanya satu ruangan luas di mana meja kerja Alana berada yang masih menyala. Alana duduk sendiri di sana, membuka kembali berkas Harris Suwanto. Tumpukan transkrip sidang lama, foto bukti, analisis forensik dokumen—semuanya bertebaran di meja. Ia membaca ulang kesaksian saksi kunci. Ada jeda waktu yang janggal. Ada perubahan redaksi di berita acara. Ada tanda tangan yang tampak sah—namun tekanan tintanya berbeda. Semakin ia menyelami, semakin jelas satu hal: Kasus ini tidak bersih. Pintu ruangan bosnya terbuka pelan. Alana refleks menoleh. Arvin berdiri di sana, tanpa jasnya. Hanya kemeja putih yang lengan bajunya digulung sampai siku. Wajahnya terlihat lelah, tapi tetap fokus. Dia berjalan beberapa langkah menghampiri m

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN