Zahra menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. Pria yang siang hari begitu tegas, begitu keras di ruang sidang dan di hadapan media—kini terlihat begitu rapuh dalam caranya mencintai. “Kamu sudah makan?” tanya Zahra kemudian. Dia pikir suaminya sudah makan bareng rekan-rekan kantornya, karena pulangnya tidak menanyakan makan malam, malah bermanja-manja. “Belum. Tapi sekarang rasanya sudah kenyang.” Zahra mengerutkan dahi. “Kenapa?” Arvin berdiri perlahan, lalu mengecup kening istrinya dengan lembut. “Karena lihat kamu saja sudah cukup.” Zahra terkekeh pelan. “Gombal.” “Serius,” jawabnya, kali ini menatap wajah Zahra lebih lama. “Di luar sana rasanya seperti perang. Tapi pulang ke rumah… aku merasa tenang. Ada kamu dan dua jagoan ini,” Arvin kembali mengusap perut istrinya. Ia mem

