Hingga pagi menjelang, Banyu terbangung dengan kepala yang masih terasa berat. Baru kali ini Banyu terbangun karena suara alarmnya, biasanya ia bangun lebih dulu dari alarmnya itu. Ia menatap langit-langit kamar beberapa detik untuk menetralkan semuanya, lalu beralih meraih ponselnya yang berada di sisi ranjang. Tidak ada balasan dari Bening. Nama Bening masih berada di deretan chat teratas, dengan pesan terakhirnya semalam yang tak kunjung dibaca. Banyu menelan ludah. Ada rasa kosong yang tidak juga pergi meski malam sudah berlalu. Ia bangkit tanpa mandi terlalu lama. Kemejanya ia ambil asal, dasi pun hanya disampirkan tanpa benar-benar dirapikan. Kepalanya dipenuhi satu hal saja, Wiratama. Tanpa sarapan, tanpa pesan pada siapa pun, Banyu keluar rumah. Mobil melaju membelah jalanan pa

