Ganika menatap temannya itu tidak sabar. “Apa cirinya? Bagaimana orangnya?” tanyanya. Indri tertawa, “Sabar sabar… Kejadiannya sudah lama sekali. Saat kejadian juga malam hari dan gelap, jadi aku harus konsentrasi untuk mengingat semuanya.” “Ya, ya, paham… Sorry,” Ganika ikut tertawa. “Aku memang tidak sabaran.” “Tenang saja, aku sudah paham,” Indri hanya tersenyum. Ia sudah mengenal sifat Ganika karena memang berteman baik meski bukan sahabat yang selalu menelepon setiap hari atau setiap waktu. Kedekatan mereka tidak bisa dihindari karena sudah bekerja di kantor yang sama selama bertahun tahun. Apalagi beberapa bulan ini, ia dan Ganika sama sama ditugaskan ke negara matahari terbit. “Yang pasti lelaki itu berpotongan rambut pendek, lurus,” gumam Indri. “Lalu… Dia juga berpakaian ra

