Sepagi mungkin Wira bergegas menuju kawasan industri untuk menemui Ranu. Sesuai dugaan, atasannya itu sudah berada di kantor. Ia menghampirinya. “Pak, apa bisa saya minta waktu bicara. Ini penting, soal lelaki di lantai tujuh,” ucapnya pelan. Ranu mengangguk. Tanpa berkata kata, ia berbalik dan mengajak Wira ke sebuah ruangan rapat. “Ada apa?” tanya Ranu ingin tahu. Wira menatapnya dengan serius, “Ada perkembangan berarti. Semalam Ganika menghubungi saya dan menyampaikan kabar yang membantu penyelidikan kita.” “Apa itu?” Ranu semakin penasaran. “Ada teman Ganika yang mengingat kalau Ibu Dina pernah dekat dengan seorang lelaki sekitar setahun setengah lalu. Ciri cirinya mirip dengan salah satu dari dua orang di lantai tujuh tersebut,” ucap Wira pelan. Ia lalu menyebutkan ciri ciri

