Banyu tiba di kediamannya dan memilih masuk ke ruang kerjanya. Seperti biasa, ia melepas sepatu lalu berbaring di sofa. Jam sudah menunjukkan pukul dua dinihari. Percakapannya dengan ‘istrinya’ memakan waktu cukup lama. Matanya terpejam. Ia mengantuk tapi tidak kunjung tidur. Di malam yang sepi dan sunyi, Banyu mengingat mantan istri dan putra satu satunya. Ia ingin menemui mereka dan memeluknya. Tidak hanya malam yang sepi dan sunyi tapi juga hidupnya. Dari dulu sebetulnya Banyu terbaisa sendiri. Tapi sejak ada Jelita, hidupnya berubah. Dan akhirnya ia terbiasa dengan kehadirannya. Jadi kalau Jelita tidak lagi mengisi hari harinya, rasanya tersiksa. Ia tidak menyangka kalau hatinya akan terluka dan sulit melewati hari hari tanpa mantan istrinya itu. Tujuh bulan terpisah, tidak

