Langkah kaki Evana yang masih setengah berat berhenti mendadak ketika suara dor! dor! dor! menggema dari luar rumah. Suara itu tajam, menusuk telinga, dan membuat bulu kuduknya berdiri. Baru satu hari dia tinggal di mansion Moretti, dan malam tadi yang sudah ia lewati selalu terasa penuh misteri. Namun kali ini, suara tembakan itu terlalu nyata, terlalu dekat. Kedua tangannya refleks meremas pegangan tangga. Napasnya tercekat, matanya melebar. Jantungnya berdetak kencang seolah hendak meloncat keluar dari d**a. “A-apa itu?” lirihnya, hampir tak terdengar. Cecilia, yang mengikuti langkah sang nyonya dari belakang, segera mencondongkan tubuh sambil menundukkan kepala penuh hormat. Wajahnya tetap tenang, meski ada kilatan gugup yang cepat ia sembunyikan. “Tenanglah, Nyonya,” ucapnya lembu

