Evana baru saja pulang dari kantor sore itu. Tubuhnya terasa lelah, tapi pikirannya justru segar. Ia merasa bahagia masih bisa bekerja, meski banyak risiko yang harus ia hadapi, terutama statusnya sebagai istri dari Elvano Demian Moretti yang masih ia sembunyikan rapat-rapat. Bagi Evana, bekerja adalah bentuk aktualisasi diri, bukan sekadar pengisi waktu. Namun, langkahnya terhenti saat memasuki ruang tengah rumah besar itu. Seorang perempuan anggun, elegan, dengan gaun sederhana namun mahal, tengah duduk santai di sofa panjang. Rambutnya ditata rapi, wajahnya yang hampir tanpa riasan tetap terlihat menawan. Tatapan teduh sekaligus tajam itu segera beralih padanya. “Mom!” seru Evana spontan. Senyum merekah di wajahnya, ia segera berlari kecil mendekati perempuan itu dan meraih tangannya

