Pada akhirnya, Hakim tetap ikut mengantarkan Zivanna ke tempat sahabatnya berada, rumah sakit di pusat kota yang masih terang meski malam telah bergulir ke ujungnya. Sepanjang perjalanan, keduanya tidak banyak berbicara. Hanya suara gesekan roda di aspal dan sesekali tarikan napas panjang dari Zivanna yang sedang menata emosinya. Hakim tidak bertanya apa-apa. Ia tahu, diamnya Zivanna adalah bentuk doa, dan ia memilih menghormatinya. Begitu mobil berhenti di parkiran bawah tanah rumah sakit, Zivanna membuka sabuk pengaman, tapi tangan Hakim lebih dulu menahan lengan kecilnya. “Saya ikut, ya,” ucap Hakim pelan, bersiap membuka pintu. Namun Zivanna cepat menggenggam jemarinya. “Enggak, Om. Kamu pulang aja. Istirahat. Aku pasti bakal lama di dalam, mungkin aku besok baru bisa pulangnya,” kat