"Yang benar saja kamu, Ardian. Besok adalah sidangnya Zivanna. Tidak mungkin saya tidak datang," ucap Hakim, suaranya berat dan dalam, menggema di antara dentingan alat-alat gym berbahan baja di bangunan khusus di halaman belakang rumahnya. Keringat masih membasahi kening dan pelipisnya, kaos hitam pas badan itu melekat di tubuhnya yang padat, sementara tangannya menggenggam handuk kecil yang tak sempat digunakan. Letnan Ardian berdiri di hadapan atasannya, ragu tapi tetap tegak, dengan map folder dinas di tangan kanan dan ekspresi yang tak bisa menyembunyikan tekanan. "Saya tahu, Pak. Tapi perintah dari Komando Operasi Udara hari ini sudah ditandatangani. Briefing awal malam ini. Bapak harus hadir dalam pertemuan tertutup bersama dua perwira Angkatan Darat dan seorang penasihat dari Bak