“Di rumah Kolonel Ardanta?” tanya Hakim memastikan, tanpa mengalihkan pandangan dari jalan. Zivanna yang sedang mengunyah sandwich buatan sendiri, mengangguk ringan sembari menyuapi suaminya yang menyetir. “Iya. Kezia katanya mulai lagi ngasuh anak tetangganya itu. Supaya pikirannya teralihkan... biar enggak terus mikirin soal ibunya.” Hakim menerima suapan itu sambil mengangguk paham. “Dia masih kerja di galeri seni?” Mendengar pertanyaan itu, mata Zivanna menyipit pelan. “Kok kamu tahu?” Nada suaranya datar, namun sorot matanya langsung menelisik wajah suaminya. “Kamu pernah ngobrol sama Kezia? Kapan? Kok aku gatau sih?” Hakim melirik sekilas dan langsung mencubit pipi istrinya dengan gemas. “Kamu yang cerita, Zivanna. Mungkin kamu lupa,” gumamnya pelan. “Gak ada saya bicara banyak d