Lorong rumah sakit, Azka baru saja kembali dari tenda bubur ayam bersama Qiana, Latifah, dan Syafiq. Senyum hangat mereka belum sepenuhnya lenyap, meski masih ada jejak kelelahan di mata. Qiana menggandeng tangan suaminya sambil sesekali menatapnya diam-diam. Di satu sisi hatinya, ia merasa hubungan mereka mulai menemukan titik terang, meski langkahnya masih ragu. Tiba-tiba, pintu lift terbuka dan dokter Rina keluar dengan langkah cepat. “Tuan Azka!” serunya, agak terengah. Azka spontan menoleh. “Dokter? Ada apa?” Dokter Rina langsung menghampiri mereka, senyumnya mengembang, matanya sedikit berkaca. “Tiara ... anak Anda, mulai menunjukkan kesadaran. Tadi dia menggeliat dan ... memanggil ‘mama’.” Latifah menutup mulutnya, menahan air mata yang langsung mengalir deras. “Ya Allah ... ya