Udara pagi masih lembap oleh sisa embun yang belum sepenuhnya menguap. Azka dan Qiana baru saja keluar dari pintu lobi rumah sakit ketika tanpa sengaja mereka berpapasan dengan Latifah dan Syafiq di koridor samping, tepat di dekat lift. “Azka, Qiana,” sapa Latifah lirih sambil menegakkan punggungnya yang tampak lelah. Syafiq berdiri di sampingnya, wajahnya masih menyisakan bekas kantuk. “Mama, Papa …,” Azka tersenyum tipis, lalu menundukkan kepala memberi salam hormat. “Mau cari sarapan?” Latifah mengangguk. “Iya, baru saja istirahat sebentar di kamar VIP buat Tiara, kalau-kalau dia sadar.” Qiana tersenyum ramah. “Kami juga mau sarapan, Mah. Di tenda bubur ayam seberang.” “Mau bareng?” tanya Azka. Syafiq mengangguk. “Boleh, biar sekalian ngobrol.” Keempatnya menyeberang pelan ke seb