Seminggu berlalu sejak malam hangat di ruang rawat VIP itu. Matahari pagi menembus tirai jendela rumah sakit, memantulkan cahaya lembut ke lantai keramik yang bersih. Hari itu, suasana di rumah sakit berbeda. Lebih cerah. Lebih penuh harapan. Tiara digendong Qiana dengan senyum manis di wajahnya. Pipinya kini tak lagi pucat. Matanya berbinar penuh semangat. Di sebelahnya, Dilah, sang babysitter yang sempat dirawat bersamaan, kini sudah bisa berjalan meski tangan kirinya masih tergips. Ia mengenakan blouse longgar dan celana kain nyaman, langkahnya hati-hati tapi wajahnya penuh rasa syukur. Qiana membenarkan jaket kecil Tiara sambil sesekali memandangi wajah keponakannya yang ia rawat dari lahir seakan masih tak percaya bahwa mereka bisa melewati semua itu. Hatinya hangat, tapi juga berat