Suasana di ruang rawat Tiara masih terasa tenang. Anak kecil itu kini tertidur dengan damai dalam dekapan hangat dunia kecilnya—Azka dan Qiana yang duduk di sisi tempat tidurnya, sesekali saling menatap, seakan ingin memastikan bahwa semuanya kini sedang berjalan ke arah yang lebih baik. Ketukan pelan di pintu kembali memecah keheningan. Qiana refleks menoleh. Tatapannya seketika melebar saat melihat siapa yang muncul dari balik pintu. “Mama ... Papa?” Suara Qiana hampir tercekat. Ia langsung berdiri. Azka pun bangkit dari duduknya, menyusul Qiana yang telah berjalan cepat menyambut kedua tamunya. Hasna—ibu Qiana—merentangkan tangan begitu melihat putrinya. Pelukannya hangat, lama, dan seolah menenangkan luka yang selama ini Qiana simpan dalam diam. “Papa ....” Qiana berpaling, memel