Pagi yang hangat itu membawa semacam keajaiban kecil yang menyusup perlahan ke dalam ruang hati Qiana. Pelukan hangat mereka masih erat, namun terasa lebih dalam—bukan hanya pelukan tubuh, tapi juga pelukan jiwa yang selama ini saling menjaga jarak karena luka dan masa lalu. Azka perlahan menarik diri dari pelukan itu, hanya cukup agar ia bisa menatap wajah istrinya. Jarinya yang hangat menyentuh lembut pipi Qiana, mengusap pelan air mata haru yang menggantung di sudut mata gadis itu. Tatapan matanya dalam dan tenang, seolah ingin memastikan bahwa yang ia genggam sekarang adalah sesuatu yang berharga dan tak boleh disakiti lagi. “Qiana …,” bisiknya pelan. Gadis itu menatap balik, ada gugup, ada canggung, tapi juga ada kenyamanan yang tak bisa ia sangkal. Hatinya berdetak begitu cepat, t