Beberapa hari kemudian, setelah rutinitas kembali berjalan normal pasca pernikahan mereka yang tenang namun penuh makna, Azka tiba-tiba mengajak Qiana untuk ikut ke Bali. Katanya, ada urusan bisnis mendesak yang harus ia tangani langsung di sana, dan ia tak ingin berjauhan terlalu lama dari istrinya. Qiana sempat ragu, tapi Azka membujuknya dengan lembut. “Kita cuma sebentar kok. Lagi pula kamu butuh udara baru setelah semua keribetan kemarin,” ucap Azka sambil mengecup pelipis Qiana. Tatapannya hangat, dan nada suaranya tak pernah memaksa. Sesampainya di Bali, Qiana mulai curiga bahwa ini lebih dari sekadar perjalanan bisnis. Hotel tempat mereka menginap terlalu romantis—resor pribadi dengan pemandangan laut yang membentang, kolam renang pribadi, dan suasana yang terlalu sunyi untuk dis