Setelah suasana terkait ayahnya mereda, Jason mengalihkan perhatian ke urusan bisnis yang juga mendesak. Ia menatap layar peta digital yang terpampang besar di dinding, lalu menekan jarinya pelan di beberapa titik pelabuhan dan rute pengiriman. “Selanjutnya kita bahas pergerakan logistik. Kita perlu tahu dengan tepat siapa yang menyusupkan muatan itu ke alur kita,” ucapnya dingin.
“Pertama,” lanjut Jason, “Perketat semua inspeksi di Pelabuhan Palermo dan Napoli. Tandai setiap kontainer yang masuk dengan kode kita, dan pastikan petugas pelabuhan yang berwenang berada di bawah pengawasan kita. Jika ada perbedaan dokumentasi, lampirkan foto dan log pergerakan.” Ia menatap Romeo. “Kirim tim kecil untuk menyusup ke perusahaan logistik fiktif yang menandatangani pengiriman itu. Kita butuh bukti visual dan nama-nama yang terlibat.”
Jason mengarahkan pandangannya ke yang lain. “Periksa buku besar keuangan kasino dan rekening-perusahaan-perusahaan awalan shell company. Cari anomali, transfer kecil yang berulang, nomor rekening yang tidak jelas, kaitkan semuanya ke pengirim di Roma. Kalau perlu, bekukan sementara aliran modal yang mencurigakan.”
“Gunakan juga jaringan intel kita di Roma, rekan lapangan harus mendata siapa yang menerima paket itu di darat. Bila ada politisi atau broker yang terlibat, catat level keterlibatannya.”
Ia menutup dengan tegas. “Jangan buat pengumuman publik. Kita bekerja diam-diam, bukti dulu, lalu serang saat waktunya tepat. Siapkan rencana darurat bila lawan mencoba membalas. Aku tidak mau jejak kecil sekalipun lolos.”
Semua mata tertuju padanya, dan ruang rapat bergemuruh oleh kesibukan yang hendak segera dimulai pada operasi cermat yang Jason rencanakan akan menentukan siapa yang berdiri di atas saat badai itu meletus.
Jason menutup map digital di layar dengan satu gerakan tenang, lalu berdiri. Ruang rapat masih bergema oleh langkah-langkah anak buahnya yang bergerak cepat menindaklanjuti perintah. Ia menatap sejenak ke arah mereka, kumpulan profesional yang terlatih, masing-masing tahu peran mereka dalam permainan besar itu.
“Sudah cukup untuk sekarang,” ucap Jason pendek, lalu mengangguk pada Romeo. “Kita pulang.”
Romeo segera memberi hormat, lalu menuntun langkah keluar. Di koridor, cahaya lampu mengikutinya, bayangan mereka memanjang di dinding batu tua markas itu. Jason berjalan tenang menuju mobil yang sudah menunggu di parkiran tertutup. Ia memasukkan flashdisk hitam ke saku dalam, merasakan bobotnya bukan sekadar data, melainkan potensi pemicu perang antar kekuatan.
Di kursi penumpang, Romeo menutup pintu dan menoleh. “Signor, mau ke mana kita selanjutnya?” tanyanya sopan, matanya memperhatikan jalan.
“Kembali ke Sisilia,” jawab Jason datar. “Nggak ada agenda lain untuk malam ini.”
Romeo mengangguk, menghidupkan mesin. Mobil meluncur keluar dari gerbang besar, menembus malam Palermo yang mulai tenang.
Dalam kabin, hanya ada suara mesin dan desiran angin. Jason menatap gelap di luar, pikirannya sibuk merangkai langkah selanjutnya, penyelidikan, pengintaian, serta rencana yang harus dijalankan agar semua benang kusut itu mengarah sesuai kehendaknya.
Perjalanan pulang berlangsung tanpa banyak kata. Romeo mengemudi rapi, sesekali melirik Jason lewat kaca spion. Jason sendiri menengadahkan kepala sedikit, menutup mata sekejap, bukan istirahat, melainkan menimbang kemungkinan. Dalam hatinya, satu janji bergema. 'Ketika semuanya terungkap, siapa pun yang bermain kotor akan tahu rasanya menghadapi amarahnya.'
Lampu mansion menyambut mereka jauh di kejauhan, dan mobil itu pun melaju menuju rumah yang menunggu, tempat rahasia, kekuasaan, dan keputusan berikutnya akan dibuat.
Mobil berhenti perlahan di depan gerbang besar mansion, lampu depan menyorot jalan berbatu yang tenang. Romeo menurunkan kecepatan, lalu berhenti tepat di depan pintu utama. “Signor, kita sudah sampai,” ucapnya pelan.
Namun tak ada jawaban. Ia menoleh dengan hati-hati, dan matanya menangkap Jason yang bersandar di kursi, matanya terpejam. Napasnya teratur, wajahnya tenang tapi tetap menyimpan kesan dingin dan berwibawa, bahkan saat tertidur.
Romeo menatapnya sejenak, bimbang antara membangunkan atau membiarkan pria itu beristirahat. Tapi mengenal watak Jason yang tidak suka diganggu, ia akhirnya memilih diam. Ia hanya menarik napas perlahan, menegakkan duduknya kembali.
Suara detik jam digital di dashboard terdengar jelas dalam keheningan malam. Di luar, angin berhembus lembut melewati pepohonan dan memecah sunyi di halaman luas mansion itu. Romeo melirik jam tangannya, sudah hampir tengah malam. Ia tetap menunggu dengan sabar, menjaga ketenangan, sementara di sampingnya sang Signor masih terlelap, seolah dunia di luar tak berarti apa-apa.
Dalam tidurnya yang tenang, Jason terperangkap dalam mimpi yang gelap dan mencekam. Ia kembali ke masa beberapa tahun silam, masa ketika ayahnya, Lorenzo Aldern, masih hidup dan memimpin sebuah misi penting di luar negeri. Misi itu berkaitan dengan pengamanan jalur perdagangan senjata dan dokumen rahasia antara Sisilia dan Roma, sesuatu yang hanya diketahui oleh kalangan tertentu di dalam lingkaran mereka.
Dalam mimpi itu, Jason melihat ayahnya duduk di dalam kabin jet pribadi, memandangi langit senja dari balik jendela. Senyum tipis menghiasi wajah Lorenzo, tapi senyum itu tiba-tiba lenyap. Tubuhnya menegang, tangannya menekan da-da. Napasnya tersengal. Salah satu asistennya berteriak, memanggil dokter yang ikut dalam penerbangan.
Namun semua berjalan terlalu cepat. Dokter itu berkata dengan nada datar, “Serangan jantung.” Tapi ada sesuatu yang janggal Jason ingat betul, ayahnya tak pernah punya riwayat penyakit jantung.
Ketika pesawat darurat mendarat di bandara terdekat dan Lorenzo dibawa ke rumah sakit, segalanya sudah terlambat. Tubuh itu dingin sebelum mencapai ruang gawat darurat. Dalam mimpi itu, Jason berdiri di ujung koridor, menatap tubuh ayahnya yang tertutup kain putih lalu samar terdengar bisikan,
“Ini bukan serangan jantung, Jason…”
Jason terbangun tiba-tiba, keringat dingin membasahi pelipisnya.
“Signor, Anda sudah bangun?” suara Romeo terdengar hati-hati dari kursi depan.
Jason menarik napas panjang, tubuhnya sedikit tegak dari posisi sandaran. Ia menyentuh pelipisnya yang masih terasa berat, lalu melirik jam di pergelangan tangan kirinya, jarum panjang sudah hampir mendekati angka enam.
“Berapa lama aku tertidur?” tanyanya datar, suaranya masih berbaur antara lelah dan dingin.
“Tiga puluh lima menit, Signor,” jawab Romeo cepat sambil menatap kaca depan. “Anda terlihat sangat lelah, jadi saya tidak berani membangunkan.”
Jason hanya mengangguk perlahan. Pandangannya menerobos keluar jendela, melihat gerbang mansion yang berdiri kokoh di bawah langit sore yang mulai memudar. Entah kenapa, setelah mimpi itu, hatinya terasa berat, perasaan yang jarang sekali ia biarkan muncul ke permukaan.
“Sudah berapa lama aku nggak memimpikan dia?” gumamnya lirih, lebih kepada dirinya sendiri.
“Maaf, Signor?” tanya Romeo pelan.
“Bukan apa-apa.” Jason segera menutup emosi di wajahnya, kembali memakai topeng dingin yang biasa ia kenakan. Ia membuka pintu mobil perlahan. “Aku masuk dulu. Siapkan laporan terakhir malam ini, aku ingin tahu semua hasil penyelidikan,” ucapnya datar sebelum melangkah keluar, meninggalkan Romeo yang hanya bisa menatap dengan penuh hormat.
Namun baru satu langkah Jason meninggalkan mobil, pintu mansion besar itu perlahan terbuka. Dari baliknya muncul sosok Gianna, mengenakan gaun santai berwarna lembut, rambutnya tergerai sedikit berantakan. Di tangan kanannya, ia menyeret koper besar, koper yang tadi pagi diberikan oleh Grace.
Matanya tampak sedikit sayu, menunjukkan betapa ia belum tidur semalaman. Gianna memang sengaja menunggu Jason kembali, menatap jam berulang kali hingga akhirnya tertidur di kursi ruang tamu, lalu terbangun ketika mendengar suara mobil berhenti di halaman.
Jason menghentikan langkahnya. Tatapan dinginnya jatuh pada Gianna yang berdiri di bawah cahaya lampu depan mansion. Ada gurat kelelahan sekaligus harap di wajah wanita itu.
“Signor…” Suara Gianna lembut namun terdengar gugup. “Aku pikir kamu nggak akan pulang malam ini.”
Jason menatapnya beberapa detik tanpa berkata apa-apa, lalu perlahan berjalan mendekat. “Kamu masih belum tidur?” tanyanya datar, nada suaranya sulit dibaca.
Gianna menggeleng kecil, senyumnya lemah. “Aku menunggu. Kamu bilang tadi kita akan pindah.”
Jason berhenti satu langkah di depannya, pandangannya menusuk tajam, dingin namun misterius. “Dan kamu siap untuk itu?” Suaranya berat, membuat udara di sekitar mereka terasa menegang.
“Apakah ada satu saja perintahmu yang tak dituruti oleh semua orang di tempat ini?” balas Gianna pelan namun tajam, menatap Jason dengan sorot mata yang penuh tanya.
Jason tidak menjawab. Rahangnya mengeras sejenak sebelum ia berbalik, langkahnya mantap menuju mobil. Tanpa banyak bicara, ia menarik gagang pintu dan membukakannya untuk Gianna, gerakannya tenang tapi berwibawa.
“Masuk,” ucapnya singkat, datar, namun cukup tegas untuk membuat Gianna segera menuruti.
Tanpa membantah lagi, Gianna melangkah masuk ke mobil. Suasana di antara mereka kembali sunyi, hanya suara lembut pintu tertutup yang mengisi keheningan malam.