“Grace?” pekik Gianna pelan, nyaris tersentak karena suara langkah itu muncul begitu tiba-tiba di belakangnya. “Signora, maaf bila mengejutkan,” ucap Grace dengan sopan sambil menunduk. “Aku hanya menjalankan perintah dari Signor.” Gianna mengerutkan kening, matanya menatap koper besar yang dibawa pelayan itu. “Ada apa?” tanyanya dengan nada bingung. Grace melangkah maju, memegang koper itu dengan kedua tangan lalu menyerahkannya pada Gianna. “Ini koper keperluan barang Anda. Signor berpesan agar semuanya siap dibawa nanti malam saat beliau sudah kembali.” Gianna menatap koper itu lama. Warna hitam mengilap, tampak baru, bahkan masih ada pita kecil di resletingnya. “Semuanya sudah… dipersiapkan?” tanyanya dengan suara nyaris tak percaya. “Ya, Signora. Baju, dokumen, dan beberapa baran

