“Grace?” pekik Gianna pelan, nyaris tersentak karena suara langkah itu muncul begitu tiba-tiba di belakangnya.
“Signora, maaf bila mengejutkan,” ucap Grace dengan sopan sambil menunduk. “Aku hanya menjalankan perintah dari Signor.”
Gianna mengerutkan kening, matanya menatap koper besar yang dibawa pelayan itu. “Ada apa?” tanyanya dengan nada bingung.
Grace melangkah maju, memegang koper itu dengan kedua tangan lalu menyerahkannya pada Gianna. “Ini koper keperluan barang Anda. Signor berpesan agar semuanya siap dibawa nanti malam saat beliau sudah kembali.”
Gianna menatap koper itu lama. Warna hitam mengilap, tampak baru, bahkan masih ada pita kecil di resletingnya. “Semuanya sudah… dipersiapkan?” tanyanya dengan suara nyaris tak percaya.
“Ya, Signora. Baju, dokumen, dan beberapa barang pribadi Anda sudah dipindahkan ke sini,” jawab Grace datar namun sopan.
Gianna terdiam. Ada sesuatu yang terasa aneh seolah semua sudah diatur jauh sebelum ia sempat menanyakan atau menolak. Jantungnya berdetak cepat, tak tahu apakah harus merasa lega atau justru takut.
“Baiklah… terima kasih, Grace,” ujarnya akhirnya, mencoba tersenyum walau tampak kikuk.
Grace hanya mengangguk, kemudian membungkuk pelan sebelum meninggalkan ruangan.
Begitu pintu tertutup, Gianna menarik koper itu mendekat dan menaruhnya di dekat pintu kamar. Tangannya menyentuh permukaan keras koper itu, dingin dan menimbulkan getar di dadanya.
“Apa maksud semua ini? Ke mana dia akan membawaku?” gumamnya, pandangannya kosong menatap koper yang kini terasa seperti simbol ketidakpastian, antara pelindung, atau penjara baru yang menunggu untuk dikunci rapat malam nanti.
Gianna duduk di tepi ranjang, matanya menatap kosong ke arah jendela besar yang sebagian terbuka, membiarkan cahaya sore menembus masuk dengan lembut. Tangannya perlahan mengusap seprai putih yang lembut, terasa dingin dan licin di bawah telapak tangannya. Tempat tidur itu begitu nyaman, terlalu nyaman seperti fasilitas hotel mewah yang hanya pernah dia rasakan sekali dalam hidupnya.
Perlahan, dia merebahkan tubuhnya. Tubuh mungilnya tenggelam di antara bantal-bantal empuk, dan aroma segar linen baru memenuhi indra penciumannya. Namun kenyamanan itu tak mampu menenangkan pikirannya yang berkecamuk.
Pikirannya kembali melayang pada Jason. Wajah pria itu kembali muncul dalam benaknya, tatapan matanya yang tajam, nada bicaranya yang datar namun mengandung kekuatan, dan senyum tipisnya yang sulit ditebak artinya.
“Jason…,” bisiknya pelan, menatap langit-langit kamar yang tinggi. “Orang seperti apa kamu sebenarnya?”
Dia memejamkan mata sejenak, tapi bayangan pertemuan mereka dari pertama kali pria itu menyelamatkannya, hingga kini menjadi suaminya terus berputar di kepala. Setiap langkah hidupnya kini diatur oleh orang itu, dan entah kenapa, antara rasa takut dan rasa ingin tahu mulai bercampur menjadi satu di dadanya.
“Kalau benar aku akan dibawanya malam ini,” gumam Gianna lirih, “Aku hanya berharap… bukan ke tempat yang lebih gelap dari masa laluku.”
*
*
Mobil hitam yang membawa Jason meluncur pelan di jalan berbatu sebelum akhirnya berhenti di depan sebuah bangunan besar di pinggiran Palermo. Dari kejauhan, tempat itu tampak seperti villa tua peninggalan bangsawan Italia, namun begitu mendekat, aura kemegahannya menyatu dengan sesuatu yang kelam dan misterius.
Bangunan itu berdiri kokoh dengan arsitektur klasik Eropa, dinding batu abu-abu tebal, pilar-pilar marmer menjulang di depan gerbang utama, dan jendela tinggi berhias tirai hitam pekat. Di atasnya, ukiran lambang keluarga lama masih terpatri, nyaris pudar termakan waktu, namun tetap memancarkan wibawa yang kuat. Di halaman depannya, air mancur besar berhenti mengalir, seolah sudah lama dibiarkan membisu.
Begitu lampu-lampu di sisi dinding menyala, tampaklah sisi lain dari tempat itu, dingin, penuh penjagaan, dan tak ada kesan ramah sedikit pun. Dua pria berpakaian hitam berdiri tegap di depan pintu besar berwarna mahoni, sementara kamera-kamera kecil tersembunyi di antara pilar dan tanaman merambat di sekeliling dinding.
Bau logam, minyak mesin, dan wangi samar tembakau bercampur di udara. Di balik kemegahannya, jelas ada sesuatu yang disembunyikan, tempat itu lebih dari sekadar markas ia seperti sarang kekuatan yang diselimuti rahasia besar.
Jason turun dari mobil tanpa bicara. Sepatunya menapak lantai batu dengan suara berat, matanya menatap bangunan itu lama, seolah menilai kembali pusat kekuasaannya yang sunyi namun mematikan. Sebuah tempat di mana perintahnya dijalankan… dan tidak pernah dibantah.
“Buon pomeriggio, Signore,” sapa salah satu penjaga yang berdiri di depan pintu besar dengan nada hormat namun tegas, khas logat Roma yang kental. Pria itu menundukkan kepala sedikit, sementara tangan kirinya menekan tombol di panel kecil untuk membuka pintu otomatis yang menjulang tinggi.
Jason tidak membalas dengan kata apa pun. Hanya sebuah anggukan pelan, dingin dan berwibawa, cukup untuk membuat semua orang di sekitar menegakkan tubuh dan menahan napas. Langkah-langkah sepatunya bergema di lantai marmer, diikuti oleh Romeo yang setia berjalan setengah langkah di belakangnya.
“Il resto del gruppo si riunirà tra dieci minuti,” ujar pria itu lagi, memberi tahu bahwa seluruh anggota tim harus berkumpul dalam sepuluh menit di ruang utama. Jason menoleh sedikit, sekadar memastikan pesannya jelas, lalu melanjutkan langkah.
Koridor panjang itu diterangi cahaya redup dari lampu gantung antik. Dindingnya dihiasi lukisan-lukisan tua dan peta Sisilia kuno. Suasana di dalam bangunan terasa tegang, seolah setiap sudutnya menyimpan rahasia besar. Suara mesin pendingin halus berpadu dengan langkah sepatu berirama, menciptakan suasana yang nyaris sakral namun mencekam.
Jason berhenti di depan sebuah pintu ganda dari baja hitam. Romeo segera menekan kode di panel samping, pintu itu terbuka perlahan, menyingkap ruangan luas dengan meja oval besar di tengahnya dan layar besar di dinding menampilkan peta digital.
Tanpa bicara lagi, Jason berjalan masuk dan duduk di kursi utama.
“Mulai,” ujarnya pelan namun tajam.
Suasana langsung berubah, semua yang ada di ruangan tahu, pertemuan kali ini bukan pertemuan biasa.
Sambil menunggu beberapa anak buahnya berdatangan, Jason bersandar di kursinya dengan kedua tangan bertaut di depan da-da. Pandangannya perlahan terarah pada foto besar yang tergantung di dinding ruang rapat itu, seorang pria tua berwajah tegas dengan sorot mata tajam dan rahang kokoh. Wajah itu… begitu mirip dengan dirinya.
Jason menatap lama, nyaris tanpa kedip.
“Padre…” gumamnya pelan, hampir tak terdengar. Ada bayangan masa lalu yang tiba-tiba melintas, suara perintah keras, disiplin, dan bayangan perang. Tatapan matanya menegang, bibirnya mengeras. Ia menarik napas panjang, menegakkan tubuhnya kembali.
Kini bukan waktunya untuk mengenang. Sekarang, giliran dirinya menjadi bayangan yang ditakuti semua orang.
Jason duduk di kursi utama, menatap satu per satu wajah anak buahnya yang kini memenuhi ruang rapat besar itu. Udara terasa berat, seakan setiap orang di sana tahu bahwa topik yang akan dibahas bukan hal sepele. Hanya suara detik jam di dinding yang terdengar jelas sebelum Jason akhirnya membuka suara.
“Kita akan lanjut bicara tentang kasus ayah,” ucapnya tenang namun penuh tekanan. Tatapannya tajam, menusuk ke arah setiap orang yang duduk di sana. “Apakah dari kalian ada yang menemukan bukti lain tentang rekayasa pembunuhan ayah?”
Seseorang, lalu menatap Jason dengan ragu. “Signor... kami menemukan dokumen lama yang menunjukkan adanya manipulasi laporan otopsi. Tapi sepertinya ada tangan besar yang menutupinya. Nama yang muncul... terlalu berisiko untuk disebut di sini.”
Jason mengetukkan jarinya ke meja, pelan tapi teratur, menahan emosi yang mulai naik. “Berisiko?” ulangnya dingin. “Ayahku dibunuh dan kamu pikir aku takut risiko?”
Ruangan itu langsung hening. Tak ada yang berani bersuara. Romeo hanya menatap Jason dari kejauhan, tahu betul jika amarah itu meledak, tak ada yang bisa menahannya.
Jason mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. “Aku ingin semua file itu di mejaku malam ini. Siapa pun yang berani menyentuh keluarga Aldern harus bersiap kehilangan segalanya,” ujarnya dengan nada mengancam.
Mereka mengangguk cepat. “Baik, Signor. Kami akan pastikan semua bukti terkumpul.”
Jason bersandar lagi, menatap mereka dengan mata gelap penuh dendam.
“Permainan ini belum selesai,” katanya pelan. “Tapi kali ini… aku yang menulis akhirnya.”
Suasana ruang rapat kembali tegang ketika salah satu anggota mengangkat tangan perlahan, suaranya terdengar hati-hati namun cukup jelas.
“Signor,” ucapnya, membuat semua mata kini tertuju padanya. “Ada sebuah penemuan baru dari catatan lama. Dokter yang melakukan otopsi terhadap Signor Aldern… ternyata bukan dokter militer seperti yang tercatat dalam laporan resmi.”
Jason langsung menegakkan tubuhnya. Matanya menyipit, tajam penuh selidik. “Maksudmu?” tanyanya datar.
“Dokter itu,” lanjut pria itu sambil membuka berkas di tangannya, “merupakan dokter pribadi seseorang politisi di Roma.”
Jason mengetukkan jarinya ke meja, menunggu penjelasan lanjutan. “Siapa politisi itu?” lontarnya, kini nada suaranya lebih tajam, penuh tekanan.
“Signor Sergio,” jawab pria itu akhirnya, suara hampir bergetar. “Dokter itu dulu merupakan dokter keluarga Sergio, tapi… dia dipecat beberapa tahun lalu tanpa alasan yang jelas.”
Jason terdiam sesaat, lalu berdiri perlahan. Setiap langkahnya terdengar bergema di dalam ruangan. “Dipecat? Rasanya terlalu kebetulan. Seorang dokter yang terlibat dalam kematian ayahku ternyata pernah bekerja untuk musuhku? Itu bukan kebetulan, itu jebakan,” gumamnya pelan namun penuh amarah dingin.
Tatapannya beralih pada Romeo. “Coba cari informasi tentang dokter itu. Nama, alamat terakhir, riwayat pekerjaannya, bahkan keluarganya. Aku ingin tahu semuanya sampai ke akar.”
“Siap, Signor!” jawab Romeo tegas.
Jason kemudian berbalik, pandangannya gelap dan penuh dendam. “Jika Sergio berani mengotak-atik kematian ayahku, maka dia baru saja menandatangani akhir hidupnya sendiri.”
Ruang rapat mendadak sunyi, hanya detak jam yang menekan. Jason menatap foto ayahnya, rahang mengeras. “Berikan aku nama-nama terkait. Ketika aku menemukan dokter itu dan semua yang ada di belakangnya, mereka akan menanggung konsekuensi yang tak akan mudah dilupakan selama sisa hidup mereka dan keluarganya tanpa ampun...”