Gianna terdiam mematung ketika Jason tiba-tiba mendekat. Tatapan tajam pria itu tak berpindah sedikit pun darinya, membuat jantungnya berdetak tak karuan. “Signora…” gumam Jason pelan, suaranya rendah, nyaris seperti desahan yang menyelinap di antara napas mereka yang semakin dekat.
Gianna tak sempat mundur, tak sempat berpikir apa pun. Dalam hitungan detik, bibir Jason sudah menyentuh bibirnya.
Ciuman itu bukan lembut, tapi juga bukan kasar, lebih seperti sebuah penegasan. Sentuhan cepat namun penuh kendali. Gianna membeku, matanya membulat, sementara udara di paru-parunya serasa menguap. Bibir Jason hangat, kuat, dan melumat bibirnya hanya dalam sekejap, seolah sekadar ingin menandai bahwa kini dirinya benar-benar miliknya.
Sebelum Gianna sempat memproses perasaannya, ciuman itu sudah berakhir. Jason menarik diri perlahan, napasnya masih dekat dengan wajahnya. Gianna mengerjap cepat, menarik napas pendek dengan da-da naik turun. Ada kehangatan yang tersisa di bibirnya, tapi lebih dari itu, ada rasa bergetar yang tak bisa dia jelaskan.
Jason hanya tersenyum tipis, senyum yang sulit ditebak apakah itu kepuasan atau sekadar simbol kekuasaan. “Itu tanda bahwa kamu memang sudah jadi milikku,” ujarnya pelan sebelum berbalik meninggalkannya.
Gianna berdiri di tempat, jemarinya perlahan menyentuh bibirnya sendiri. Sentuhan itu masih terasa, membakar dalam diam. Ia menggigit bibir bawahnya, mencoba menenangkan debar di dadanya yang tak kunjung reda.
“Jason…” bisiknya nyaris tak terdengar antara marah, bingung, dan sesuatu yang baru tumbuh dalam dirinya yang belum siap ia akui.
“Apa kamu mau terus di situ?” suara Jason terdengar datar namun jelas, membuat Gianna tersentak dari lamunannya. Pria itu sudah berjalan lumayan jauh di depan, langkahnya panjang dan mantap meninggalkan pintu gereja.
“Apa?” sahut Gianna cepat, setengah bingung. Ia segera sadar dan berusaha mengejar, kedua tangannya sibuk mengangkat gaun pengantin yang berat agar tidak terseret di lantai. Gaun putih itu berkilau di bawah cahaya pagi, tapi menjadi beban yang membuatnya sulit bergerak cepat.
Jason berhenti sejenak, menoleh sekilas. Tatapannya seperti biasa, dingin, nyaris tak berperasaan, namun di balik mata abu-abunya ada sesuatu yang samar, seolah menilai setiap gerak Gianna. “Cepatlah,” katanya pendek.
Gianna menahan napas, lalu mempercepat langkahnya. Sepatu haknya beradu dengan lantai marmer, menghasilkan suara berirama tergesa. Begitu akhirnya sejajar dengan Jason, ia mengatur napas, mencoba menutupi rasa gugup yang menyergapnya.
“Signor… aku hanya—”
“Tak perlu alasan,” potong Jason tenang tanpa menoleh. “Mulai sekarang, kamu harus belajar mengikuti ritmeku.”
Gianna terdiam. Kalimat itu sederhana, tapi terasa seperti peringatan. Ia hanya bisa menunduk, melangkah di samping pria yang kini menjadi suaminya, sambil berusaha menyesuaikan langkah dan mungkin juga nasib yang kini telah berubah sepenuhnya.
Gianna duduk di kursi belakang mobil dengan tubuh kaku. Gaun pengantinnya sudah diganti dengan pakaian sederhana berwarna lembut, tapi sisa riasan di wajahnya masih menunjukkan bahwa hari ini adalah hari pernikahannya. Di sampingnya, Jason duduk tenang dengan jas hitam rapi, pandangannya lurus ke depan tanpa menoleh sedikit pun padanya.
“Signor, mau diantar ke mana?” tanya Romeo dari kursi depan dengan nada hormat.
“Ke Sisilia,” jawab Jason singkat.
“Lalu antar aku ke Palermo,” lanjutnya tanpa jeda.
Romeo menoleh sedikit melalui kaca spion, “Anda tidak menikmati honeymoon, Signor?” tanyanya setengah bercanda untuk mencairkan suasana.
Namun tatapan Jason tajam seperti pisau. “Ada hal lebih mendesak dari itu, Romeo,” balasnya datar.
Keheningan langsung memenuhi kabin mobil. Hanya suara mesin dan gemuruh jalanan yang terdengar. Gianna menunduk, jarinya menggenggam ujung kain roknya erat. Kata “honeymoon” saja terasa asing di telinganya, sebuah kata yang seharusnya membawa kebahagiaan, tapi kini justru terasa seperti bayangan dingin yang menghantui.
Ia melirik sekilas ke arah Jason. Wajah pria itu tetap tanpa ekspresi, seolah tak ada perasaan di balik tatapan matanya. Ada sesuatu di dalam dirinya yang membuat Gianna sulit menebak, apakah Jason benar-benar pria yang dingin tanpa hati, atau hanya sedang menyembunyikan sesuatu yang lebih dalam dari itu.
Mobil melaju cepat meninggalkan kota, membawa mereka menuju perjalanan baru yang entah akan berakhir di mana antara keselamatan, atau awal dari badai yang sesungguhnya.
*
“Turun,” ucap Jason datar tanpa menoleh sedikit pun ke arah Gianna ketika mobil berhenti di depan mansion besar mereka di Sisilia. Suaranya rendah, tapi cukup tajam untuk membuat Gianna tersentak.
“A-aku?” tanyanya gugup, menatap pria di sampingnya yang masih duduk tegap, pandangannya lurus ke depan.
“Siapa lagi yang ada di sini?” balas Jason dingin, tanpa mengubah nada suaranya sedikit pun.
Gianna membeku, menatap sekilas ke arah Romeo yang duduk di depan, tapi sopir itu hanya menunduk diam, seolah tahu tempatnya untuk tidak ikut campur. Dengan perasaan canggung dan bingung, Gianna meraih pegangan pintu dan perlahan turun dari mobil.
Udara sore Sisilia menyentuh wajahnya, lembut namun membawa hawa asing yang membuat bulu kuduknya berdiri. Ia menatap bangunan megah di depannya, mansion dengan dinding batu pucat, jendela tinggi, dan taman luas yang sunyi. Tempat itu terasa indah tapi dingin, seperti pemiliknya.
Jason masih belum turun. Gianna sempat berpikir, mungkin ia disuruh menunggu. Tapi kemudian, suara pintu mobil di sisi lain terbuka dan langkah sepatu kulit Jason terdengar menghentak tanah berkerikil.
Dia berjalan melewatinya tanpa menatap sedikit pun, menuju pintu depan mansion. “Masuk,” ucapnya pendek.
Gianna menunduk, mengikuti di belakang. Setiap langkahnya diiringi detak jantung yang terasa keras di dadanya. Ia belum tahu apa maksud kedatangan mereka ke Palermo atau urusan apa yang sedang dilakukan Jason. Tapi satu hal yang pasti, kehidupan barunya bersama pria ini bukan sekadar tentang pernikahan. Ini adalah permainan kekuasaan yang menuntutnya untuk selalu waspada… karena di balik setiap kata dingin Jason, seolah ada badai besar yang menunggu waktu untuk pecah.
Jason yang semula berjalan di depan tiba-tiba berhenti di ambang pintu. Ia menoleh sedikit pada Romeo dan berkata pelan namun tegas, “Tunggu sebentar di sini. Aku akan segera kembali.”
“Baik, Signor,” balas Romeo cepat, meski raut wajahnya tampak sedikit tegang, seolah tahu apa pun yang dilakukan Jason selalu berhubungan dengan sesuatu yang berbahaya.
Gianna yang berdiri beberapa langkah di belakang hanya sempat melirik dari ekor matanya. Ia tak berani menatap langsung, tapi matanya mengikuti setiap gerak Jason. Pria itu berbalik, melangkah cepat menuju sisi lain mansion, lalu menghilang di balik pintu ruang kerja yang tertutup rapat.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang terasa menekan. Gianna menggenggam ujung gaun pengantinnya, menatap ke arah pintu yang sama dengan rasa penasaran. Tak lama kemudian, pintu itu terbuka kembali dan Jason keluar sambil menggenggam sesuatu yang kecil berwarna hitam di tangannya.
Sebuah flashdisk.
Gianna tidak tahu apa isinya, tapi dari cara Jason menatap benda itu, jelas ini bukan hal sepele. Tatapannya tajam, penuh perhitungan, seolah benda kecil itu menyimpan sesuatu yang bisa mengguncang dunia. Tanpa sepatah kata pun, ia memasukkan flashdisk itu ke dalam saku jasnya, lalu berjalan lagi ke arah mobil.
Sebelum benar-benar masuk ke mobil, Jason kembali berhenti di depan pintu. Tatapannya menusuk namun tenang. “Aku akan kembali malam nanti,” ucapnya datar. “Persiapkan dirimu. Bawa semua barang yang kamu perlukan sebelum kita pindah dari sini.”
Gianna sontak menatap pria itu dengan mata membesar. “Pindah?” tanyanya pelan, tapi Jason sudah berbalik. Ia membuka pintu mobil tanpa menoleh lagi, masuk, dan menutupnya dengan bunyi menutup yang tajam.
Mobil itu segera melesat menjauh, meninggalkan suara mesin yang memudar di kejauhan. Waktu seolah berlari cepat bersamaan dengan debu yang naik dari jalanan. Gianna masih berdiri di tempat, terpaku, gaun putihnya tertiup angin pelan.
“Pindah? Aku mau diajaknya pindah ke mana?” pekiknya bingung sendiri. Hatinya berdebar antara penasaran, takut, dan sedikit cemas. Rumah besar itu mendadak terasa asing, seolah menyimpan rahasia yang belum siap diungkap. Ia menatap pintu yang baru saja dilewati Jason, seakan berharap jawaban muncul dari sana, namun yang terdengar hanya suara laut jauh di belakang rumah, memantulkan gema sunyi yang menambah resah di dadanya.
Gianna melangkah perlahan menuju kamarnya, memandangi setiap sudut rumah yang entah mengapa terasa berbeda. Angin dari jendela membawa bisikan samar, seolah memperingatkannya akan sesuatu. Ia menggenggam gaunnya erat. “Apa yang sebenarnya direncanakan Jason?” gumamnya lirih. Namun sebelum sempat berpikir lebih jauh, suara pintu depan tiba-tiba berderit pelan.