Eps. 16 Hari Pernikahan

1326 Kata
Pagi buta, udara di Sisilia masih lembap dan dingin ketika suara ketukan terdengar di pintu kamar Gianna. Ketukan itu terdengar terburu-buru namun tetap sopan, diiringi suara lembut tapi tegas dari pelayan rumah itu. “Signorina… maaf, tapi Anda harus bangun sekarang,” panggil Grace dari balik pintu. Gianna membuka mata perlahan, matanya masih berat, napasnya terasa lambat karena belum benar-benar sadar. Ia menoleh ke arah jendela, cahaya pagi belum sepenuhnya menembus tirai putih yang melambai lembut tertiup angin. “Ada apa, Grace? Masih terlalu pagi,” gumamnya serak sambil duduk di tepi ranjang, memegangi kepala yang sedikit pusing. Grace membuka pintu perlahan dan masuk, membungkuk hormat seperti biasa. “Maaf, Signorina, tapi hari ini… adalah hari pernikahan Anda. Signor Jason meminta saya membangunkan Anda lebih awal agar semua persiapan bisa dimulai.” Kata-kata itu membuat Gianna sontak tersadar sepenuhnya. Ia menatap Grace dengan wajah terkejut, seolah baru benar-benar menyadari kenyataan pahit yang menunggunya hari ini. “Pernikahan... hari ini?” Suaranya bergetar. Grace mengangguk pelan. “Ya, Signorina. Semuanya sudah dipersiapkan. Gaun, perhiasan, dan penata rias akan segera datang.” Gianna menarik napas panjang, dadanya terasa sesak. Ia memandang cermin di hadapannya, menatap wajah sendiri yang pucat dan bingung. “Jadi... ini benar-benar terjadi,” bisiknya lirih. Di luar, matahari baru mulai muncul dan hari yang tak pernah dia bayangkan kini telah tiba. Dengan langkah pelan, Gianna bangkit dari ranjangnya. Tubuhnya terasa berat, seolah setiap langkah yang ia ambil menuntunnya semakin dekat pada takdir yang tak ia kehendaki. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum membuka pintu. Grace sudah menunggunya di luar, membungkuk sedikit sambil memberi isyarat agar Gianna mengikutinya. “Mari, Signorina. Semuanya sudah siap,” katanya lembut namun terdengar tergesa. Koridor rumah besar itu masih diselimuti ketenangan pagi, hanya suara langkah kaki mereka berdua yang terdengar menggema di antara dinding marmer. Gianna berjalan tanpa banyak bicara, matanya menelusuri setiap detail ruangan yang kini terasa asing, meski sudah ia tinggali beberapa waktu. Grace berhenti di depan sebuah pintu besar berwarna putih gading, memutarnya perlahan, dan memperlihatkan sebuah ruangan luas dengan cermin tinggi di setiap sisi. Di tengah ruangan itu, beberapa wanita berpakaian rapi sudah menunggu, para penata rias dan stylist pribadi Jason. Begitu Gianna masuk, salah satu dari mereka segera berdiri dan menyambutnya dengan senyum sopan. “Selamat pagi, Signorina Gianna. Kami akan membantu Anda bersiap.” Gianna menahan napas, menatap deretan peralatan rias dan gaun putih megah di sudut ruangan. Dadanya terasa bergetar. Hari ini, segalanya benar-benar dimulai. Baru beberapa hari yang lalu, Gianna berhasil melarikan diri dari pernikahan dengan Sergio, sebuah pernikahan yang seharusnya menyelamatkan keluarganya, tetapi justru menjeratnya dalam ketakutan. Dan kini, sebelum luka itu sempat benar-benar sembuh, dia harus menghadapi kenyataan lain, menjadi pengantin Jason, pria yang dingin, penuh rahasia, dan tampak berbahaya dalam kesenyapannya. Rasanya waktu berlari terlalu cepat, tanpa memberi kesempatan baginya untuk bernapas atau berpikir. Semua terjadi begitu mendadak, tanpa ruang bagi Gianna untuk menolak. Ia hanya bisa mengikuti arus, bahkan ketika arus itu menggiringnya ke jurang yang belum ia pahami. “Silakan duduk, Signorina,” ujar MUA itu lembut, menyadarkan Gianna dari lamunannya. Dengan langkah ragu, Gianna menarik kursi yang terletak di depan cermin besar dan duduk perlahan. Tangannya menggenggam erat pangkuannya, mencoba menyembunyikan kegugupan yang terasa sampai ke ujung jari. Para penata rias mulai bekerja menyentuh wajahnya dengan kuas lembut, membingkai matanya dengan warna yang halus, dan menata rambutnya dengan gaya elegan. Dalam pantulan cermin, Gianna nyaris tak mengenali dirinya sendiri. Wajah yang ditatapnya tampak begitu berbeda, tenang, indah, dan penuh pesona, seperti pengantin dari kisah dongeng. Namun, di balik riasan itu, matanya tetap menyimpan kesedihan yang dalam. Ia tahu kecantikan ini bukan untuk cinta, melainkan untuk perjanjian. Setiap sapuan bedak seolah menutup luka batinnya, setiap helai rambut yang disusun rapi menutupi rasa takutnya. Ketika MUA selesai, Gianna hanya menatap dirinya lama di cermin. “Cantik sekali,” puji Grace dengan suara pelan. Tapi Gianna hanya tersenyum tipis. Dalam hatinya ia berbisik. 'Cantik, tapi bukan untuk kebahagiaan.' Setelah riasan selesai, Gianna perlahan berdiri. Para MUA segera sigap membantu, menyentuhkan sentuhan terakhir pada tubuhnya, merapikan lipatan gaun, menata kerudung renda yang menjuntai lembut di punggungnya, dan memastikan setiap detail tampak sempurna. Gaun pengantin itu begitu indah, putih gading dengan bordiran halus dan kilauan kecil yang menari ketika terkena cahaya pagi dari jendela besar ruangan itu. “Sudah selesai,” ujar salah satu MUA dengan senyum puas. “Aku rasa, Signor pasti akan terkejut dan tidak mengenalimu.” Gianna hanya mengangguk kecil, mencoba membalas dengan senyum yang lembut, meski di dalam dadanya ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan. Antara senang dan bimbang, ia menatap bayangan dirinya di cermin. Wajah itu… begitu berbeda dari dirinya yang biasa. Sekilas ia tampak seperti putri dari negeri dongeng, seseorang yang akan menikah karena cinta, bukan karena kesepakatan atau rasa takut. Tapi kenyataannya jauh dari itu. Ia mengangkat ujung gaunnya sedikit, berputar perlahan di depan cermin. Gerakan itu anggun, tapi pandangan matanya tetap kosong, seperti sedang mencari makna di balik semua ini. “Putri cantik,” gumam Grace yang berdiri di sampingnya. Gianna tersenyum tipis. 'Putri yang akan menikah dengan raja yang tidak mencintainya.' batinnya lirih. Namun ia menegakkan tubuhnya lagi, menyiapkan diri karena sebentar lagi, permainan takdir itu akan benar-benar dimulai. Terdengar suara langkah berat dan tegas dari luar ruangan, ritmenya stabil, penuh wibawa. Pintu perlahan terbuka, dan sosok Jason muncul di ambang pintu. Ia mengenakan jas pengantin berwarna hitam pekat yang disesuaikan dengan potongan tubuhnya yang tegap dan berotot. Kemeja putih bersih di balik jas itu menambah kesan maskulin, sementara dasi hitam sutra menonjolkan sisi elegan dan berkelasnya. Rambutnya yang hitam legam disisir rapi ke belakang, memperlihatkan garis rahang tegas yang nyaris sempurna. Pandangan matanya tajam namun tenang, penuh kendali seperti seseorang yang terbiasa memerintah dunia di sekelilingnya. Ketika Jason melangkah masuk, aroma cologne mahalnya memenuhi ruangan, aroma yang kuat, dominan, dan menenangkan sekaligus menggetarkan. Gianna yang berdiri di depan cermin hanya bisa terpaku, pria itu benar-benar mempesona, seperti penguasa yang turun dari takhta untuk menjemput takdirnya sendiri. Untuk sesaat, tatapan Jason terpaku pada sosok Gianna. Dalam balutan gaun putih itu, wanita yang selama ini tampak rapuh kini terlihat begitu anggun dan menawan. Rambutnya disanggul rapi, menampakkan leher jenjangnya yang dihiasi kalung perak lembut. Sekilas, Jason nyaris kehilangan kata, ada sesuatu yang berbeda dari tatapan mata Gianna hari ini, tenang namun penuh keberanian. Namun ekspresi wajahnya tetap datar, tidak ada senyum, tidak ada pujian yang keluar dari bibirnya. Ia hanya menatap dalam diam, menyimpan kekaguman itu dalam hati yang tak akan pernah ia akui. Satu helaan napas panjang ia ambil, lalu dengan nada tenang, ia berkata, “Kita berangkat sekarang.” * Gereja tua di pinggir Sisilia itu tampak megah dalam kesunyian pagi. Langit berwarna biru lembut, dan sinar matahari menembus jendela kaca patri, menciptakan pantulan cahaya indah di lantai marmer putih. Jason berdiri tegap di altar dengan jas hitam elegannya, sementara Gianna berjalan perlahan menyusuri lorong dengan gaun putih yang berkilau lembut setiap kali langkahnya bergeser. Setiap langkahnya terasa berat, bukan karena gaun, melainkan karena perasaan yang tak menentu. Pendeta yang sudah menunggu di depan menyambut keduanya dengan senyum ramah, meski suasana di antara mereka begitu kaku. Tak ada tamu, tak ada bunga-bunga yang ramai, hanya keheningan sakral yang terasa asing. Jason memegang tangan Gianna saat mengucap janji, matanya tajam namun suaranya tenang. Gianna menunduk, menahan napas saat cincin melingkar di jarinya. Ketika pendeta akhirnya berkata, “Kalian kini sah sebagai suami dan istri,” hanya ada suara lembut lonceng gereja yang menggema. Gianna tersenyum tipis, bukan bahagia, tapi pasrah. Jason menatapnya sejenak, lalu mengangguk kecil, seolah menegaskan bahwa pernikahan ini bukan akhir, melainkan awal dari permainan yang lebih dalam. “Sekarang kamu resmi menjadi Signora Jason,” bisik Jason dekat telinganya, suaranya rendah dan mengandung ancaman halus. “Setiap langkahmu, setiap napasmu… akan selalu berada dalam pengawasanku.” Gianna menegang sejenak, menatap mata pria itu yang penuh misteri dan bayangan bahaya mulai mengintai… “Jangan lupa untuk tersenyum di hari bahagia ini, Nyonya Jason,” bisik Jason lalu mengecup kening Gianna.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN