Eps. 15 Aku Harus Kabur

1406 Kata
Diego menunduk di balik tumpukan peti kayu tua, menatap dari celah kecil ke arah dua kelompok yang saling berhadapan. Napasnya tercekat, matanya berputar cepat menilai situasi. Dari percakapan keras yang ia dengar, kelompok satu jelas orang-orang Sergio, pengawal kejam yang dulu sering datang menagih utang dengan kekerasan. Tapi yang satu lagi… siapa? Pria yang dipanggil “Romeo” itu tampak memimpin kelompok dengan gaya tenang namun mematikan, senjatanya siap ditembakkan kapan saja. “Siapa mereka sebenarnya? Kenapa mereka juga memburuku?” gumam Diego pelan. “Orang-orang ini bukan pihak hukum, jelas. Kalau bukan suruhan Sergio, pasti orang yang sama berbahayanya. Mungkin mereka dikirim orang lain yang juga ingin menyingkirkanku.” Suara tembakan mendadak meletus di udara, satu tembakan peringatan dari tim Sergio yang membuat semua orang tersentak. Romeo segera memberi aba-aba kepada anak buahnya untuk mundur dan berlindung di balik mobil. Sementara itu, Diego menatap sekeliling dengan panik. Di dekatnya, batu karang besar menjulang di tepi pelabuhan, menutupi sebagian jalur menuju laut. Ia sadar hanya ada satu kesempatan untuk kabur. “Kalau aku tetap di sini, mereka pasti menemukanku,” bisiknya pelan, menggertakkan gigi. “Lebih baik mati tenggelam daripada mati di tangan mereka.” Ketika suara langkah-langkah mendekat, Diego menahan napas, menghitung detik. Begitu suasana sedikit ricuh karena kedua tim mulai saling tembak dari jarak jauh, ia langsung bergerak. Ia berlari keluar dari persembunyian tanpa menoleh ke belakang. “Dia di sana!” teriak salah satu pengawal Sergio. Tapi terlambat. Diego melompat dari tepi dermaga, tubuhnya melayang sesaat sebelum menghantam permukaan air laut yang dingin menggigit. Suara cipratan besar menarik perhatian semua orang, namun kegelapan malam membuat mereka kehilangan arah pandang. “Cari dia! Jangan biarkan kabur!” pekik Romeo keras. Namun, Diego sudah jauh. Ia berenang sekuat tenaga menembus arus yang deras, tubuhnya mulai kaku karena dingin, tapi ia tak peduli. “Aku harus hidup,” gumamnya di antara gigil dan kelelahan. “Aku harus selamat, Gianna. Aku akan kembali menemuimu.” Di balik gulungan ombak malam itu, sosok Diego perlahan menghilang, ditelan hitamnya laut Sisilia. “Target berhasil kabur!” seru salah satu anak buah Sergio dengan napas tersengal, matanya masih menatap ke arah laut yang gelap. Riak ombak memantulkan cahaya lampu dermaga, tapi tak ada tanda-tanda Diego lagi. Sergio pasti akan murka bila mendengar ini. “Tembakannya hentikan!” perintah pemimpin tim Sergio dengan nada keras. “Kita nggak punya waktu buat baku tembak sekarang. Fokus cari Diego. Kalau sampai orang itu hilang, kita semua tamat.” Mereka pun segera mundur dari posisi pertempuran, meninggalkan Romeo dan anak buahnya di sisi lain dermaga. Bau mesiu masih pekat di udara, sementara peluru-peluru yang tadi sempat melesat kini hanya menyisakan bekas di dinding kapal tua. “Menyebar! Telusuri sepanjang pesisir. Dia mungkin masih di sekitar sini!” teriak salah satu anggota tim Sergio sambil memberi aba-aba dengan tangan. Tiga orang segera berlari ke arah utara, dua lainnya menuruni tangga besi menuju perahu kecil yang tertambat di bawah dermaga. Mesin kapal meraung pelan saat mereka mulai menyusuri garis pantai, menyorot permukaan laut dengan senter besar. “Tapi laut ini dalam, Tuan,” ucap salah satu dengan nada ragu. “Kalau dia tenggelam—” “Tidak ada tenggelam atau mati sebelum jasadnya ditemukan,” potong pemimpin mereka tajam. “Signor Sergio ingin dia hidup. Itu perintah.” Sementara itu, di sisi lain, Romeo berdiri di balik mobil, menatap ke arah laut yang sama. Matanya menyipit, ekspresinya datar. Ia tahu, Diego tak mungkin pergi jauh dalam kondisi seperti itu. “Biar mereka yang panik,” ucapnya pelan pada anak buahnya. “Kita tunggu waktu yang tepat. Laut akan selalu membawa sesuatu kembali ke pantai.” Suara ombak menghempas keras ke dinding pelabuhan. Di bawah cahaya bulan, perburuan masih berlanjut, hanya kini tanpa peluru, tapi dengan waktu yang semakin menekan. * * Seorang anak buah Sergio melangkah masuk dengan raut tegang, keringat dingin menetes di pelipisnya. Ia menunduk hormat sebelum berbicara, namun nada suaranya jelas bergetar karena ketakutan. “Signor… Diego berhasil kabur ketika kami hampir menangkapnya.” Sergio yang sedang duduk di kursi kulit besar menatap tajam ke arah anak buahnya. Asap cerutunya mengepul pelan, namun matanya menyala marah. “Kabur?” Suaranya berat, penuh tekanan. “Bagaimana bisa kalian kehilangan seorang pengecut seperti dia?” Anak buah itu menegang dalam gugup. “Yang lebih mengejutkan, Signor… ternyata ada pihak lain yang juga memburu Diego.” Sergio mendadak terdiam. Ia meletakkan cerutunya di asbak, lalu perlahan bangkit dari duduknya. “Siapa?” tanyanya, nada suaranya meninggi dan dingin sekaligus. “Sepertinya bukan orang sini, Signor,” jawab anak buah itu hati-hati. “Dari pakaian dan logat mereka… tampaknya orang Sisilia. Mereka mengenakan jas merah dan cara mereka bergerak, disiplin dan terlatih. Sepertinya mereka bukan sekadar preman.” “Sisilia?” ulang Sergio, kali ini suaranya berubah rendah tapi berbahaya. Ia melangkah pelan ke arah jendela besar ruangannya, menatap keluar, memikirkan sesuatu. “Berani sekali mereka menantangku di wilayahku sendiri.” Ia berbalik cepat menatap bawahannya. “Kamu tahu apa artinya ini? Ada yang bermain di belakang layar. Dan aku ingin tahu siapa yang berani mengganggu urusanku.” “Baik, Signor. Kami akan selidiki,” jawab anak buah itu cepat, menunduk dalam. Sergio menyalakan kembali cerutunya, mengembuskan asap sambil tersenyum dingin. “Diego… rupanya kamu bukan hanya membuatku marah, tapi juga menarik perhatian orang lain. Bagus. Sekarang permainan jadi lebih menarik.” Ia berjalan ke mejanya dan berkata pelan namun tajam, “Cari tahu siapa orang Sisilia itu… dan pastikan aku dapatkan Diego hidup-hidup.” ** Di ruang kerjanya yang luas dengan jendela menghadap laut, Jason duduk di kursi kulit hitam. Cahaya sore menembus tirai, menerpa wajahnya yang tenang namun menyimpan badai. Romeo berdiri tegak di hadapannya, wajahnya masih berdebu setelah perjalanan panjang. “Apa kamu membawa kabar bagus?” Duara Jason terdengar rendah, namun cukup untuk membuat udara di ruangan itu terasa menegang. “Signor, dalam pengejaran kami, kami terlibat bentrokan dengan pengawal Sergio. Mereka juga mengejar Diego. Tapi... dia kabur ke laut. Kami sudah menyisir pantai, tapi belum menemukannya,” lapor Romeo dengan nada menahan frustrasi. Jason menyandarkan tubuhnya, mengetuk ujung jarinya di meja kayu mahoni. “Kalian bertemu dengan anak buah Sergio?” “Ya, Signor. Mereka datang lebih dulu, tapi kami sempat menahan mereka sebelum Diego melarikan diri.” Jason menghela napas berat. “Sergio... dia memang tak pernah puas.” Hening sejenak, lalu matanya menyipit tajam. “Bagaimana dengan penyelidikan sebelumnya? Tentang barang selundupan yang disisipkan ke dalam senjata kita?” Romeo menegakkan tubuh. “Dari hasil penyelidikan awal, seseorang dari Roma terlibat, Signor. Kami belum tahu siapa dalangnya, tapi semua jejak mengarah ke sana.” Jason menatap kosong ke arah laut di balik kaca. “Roma... Diego... Sergio... semuanya terlalu berhubungan untuk disebut kebetulan.” Ia bergumam pelan namun penuh arti. “Apakah mungkin ini permainan Sergio?” tanyanya lirih. Bayangan pria itu menari di wajahnya dan membuat rahangnya mengeras. “Kami akan menyelidikinya lagi, Signor,” sahut Romeo cepat. Jason berbalik, nada suaranya dingin tapi tegas. “Lakukan. Dan Romeo jika kamu temukan kebenaran, jangan bawa laporan. Bawa orangnya langsung padaku.” Setelah Romeo pergi, Jason menutup pintu perlahan dan kembali duduk di kursi kulitnya. Senyum tipis terulas di bibirnya, bukan senyum ramah, melainkan senyum yang dingin dan mengerikan, seperti predator yang menikmati permainan yang baru saja dimulai. Dia sadar sebenarnya harus mengambil peran aktif sebagai pemburu yang kejam tanpa ampun dan tanpa belas kasih. Ia menatap jendela besar, melihat gelap laut malam yang tenang, lalu berbisik pelan pada dirinya sendiri, “Sergio…” Namanya diucapkan seperti doa sekaligus ancaman. Pikiran Jason bergerak cepat, merangkai kemungkinan, jejak yang mengarah ke Roma, pengiriman yang disusupi, dan pengejaran terhadap Diego yang kini menjadi simpul antara mereka. “Kamu mengira bisa bermain kotor di wilayahku tanpa konsekuensi?” gumamnya, nada suaranya datar namun berisi. Ia membayangkan langkah-langkah balasan, serangan terukur, sabotase halus, orang-orang yang tiba-tiba kehilangan kendali, semua dilakukan dengan presisi yang hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang menanamkan rasa takut dari balik bayang-bayang. Jason meneguk anggur, lalu menaruh gelasnya dengan tenang. “Kalau memang Sergio yang bermain kotor, baik. Biarkan dia membuka pintu ini sendiri.” Senyum di wajahnya melebar sedikit, semakin menyeramkan. “Dalam waktu dekat, aku akan beri pelajaran yang tidak akan pernah dia lupakan.” Di ruang itu, hanya ada suara detak jam dan napas Jason yang tenang. Di balik ketenangan itu, badai sudah disiapkan dan targetnya sudah jelas. Siapa yang berani bermain-main dengan dirinya maka akan mendapatkan api.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN