Di ruangan itu, Jason duduk sendirian di balik meja kerjanya yang besar. Sinar matahari pagi menembus kaca tinggi, membentuk garis cahaya di wajahnya yang tegas. Ia tampak berpikir keras, pandangannya kosong namun tajam, menatap satu titik di hadapan tanpa benar-benar melihat. Jari telunjuknya berulang kali mengetuk permukaan meja kayu, ritmenya teratur namun sarat dengan ketegangan. Dalam diamnya, satu nama terus berputar di kepalanya, Gianna. Wanita itu mulai mengusik pikirannya, sesuatu yang seharusnya tak boleh terjadi. Jason menghela napas pelan, menegakkan tubuhnya, dan menatap berkas di depannya, bukti tentang siapa sebenarnya Gianna dan keluarga Diego. “Menarik sekali,” gumamnya dingin, jari berhenti mengetuk meja. Terdengar suara langkah kaki berhenti di depan pintu, diikuti t

