Eps. 14 Menemukan Diego

1334 Kata
Di ruangan itu, Jason duduk sendirian di balik meja kerjanya yang besar. Sinar matahari pagi menembus kaca tinggi, membentuk garis cahaya di wajahnya yang tegas. Ia tampak berpikir keras, pandangannya kosong namun tajam, menatap satu titik di hadapan tanpa benar-benar melihat. Jari telunjuknya berulang kali mengetuk permukaan meja kayu, ritmenya teratur namun sarat dengan ketegangan. Dalam diamnya, satu nama terus berputar di kepalanya, Gianna. Wanita itu mulai mengusik pikirannya, sesuatu yang seharusnya tak boleh terjadi. Jason menghela napas pelan, menegakkan tubuhnya, dan menatap berkas di depannya, bukti tentang siapa sebenarnya Gianna dan keluarga Diego. “Menarik sekali,” gumamnya dingin, jari berhenti mengetuk meja. Terdengar suara langkah kaki berhenti di depan pintu, diikuti tiga ketukan ritmis yang khas. Jason menoleh perlahan dari kursinya. “Masuk,” perintahnya datar. Pintu terbuka, memperlihatkan Romeo yang menunduk hormat. “Signor, Anda memanggil saya?” Jason menyandarkan punggungnya ke kursi, kedua tangannya saling bertaut di depan da-da. “Ya, Romeo. Aku ingin kamu mencari seseorang, Diego Moretti.” Romeo mengerutkan dahi, mencoba mengingat nama itu. “Diego Moretti, Signor? Nama itu tidak ada dalam daftar target ataupun rekanan bisnis kita.” Jason menatapnya tajam, membuat pria itu segera diam. “Aku tahu. Tapi sekarang dia penting. Bawa dia ke sini sebelum Sergio menemukannya.” Romeo menahan napas, memahami betapa seriusnya perintah itu. “Apakah ini berkaitan dengan Signorina Gianna?” tanyanya hati-hati. Jason tidak menjawab, hanya menatap lurus ke arah jendela, di mana cahaya matahari menembus tirai tipis. “Kamu cukup tahu tugasmu. Jangan biarkan Sergio lebih dulu sampai padanya. Aku ingin Diego hidup dan bisa bicara.” Nada suaranya tegas, dingin, namun di balik itu tersimpan sesuatu yang sulit ditebak antara rencana dan emosi yang samar. “Baik, Signor,” ucap Romeo cepat, membungkuk sedikit sebelum berbalik menuju pintu. Saat langkah Romeo menjauh, Jason menatap berkas di tangannya, foto lama Gianna bersama Diego. Bibirnya melengkung tipis. “Waktunya menuntut balasan, Tuan Moretti,” gumamnya pelan, penuh makna tersembunyi. Setelah Romeo meninggalkan ruangan, keheningan sempat menyelimuti seisi tempat itu. Jason menatap layar ponsel di mejanya yang tiba-tiba berdering. Ia menatap sebentar, lalu menekan tombol merah, panggilan itu tak penting. Namun tak lama kemudian, terdengar ketukan lembut di pintu. “Masuk.” Suaranya datar namun berwibawa. Pintu terbuka, memperlihatkan sosok Grace yang membungkuk hormat. “Signor, Anda memanggil saya?” tanyanya hati-hati. Jason menegakkan tubuhnya di kursi, menatapnya dengan pandangan tenang tapi menusuk. “Carikan gaun pengantin yang paling indah untuk dipakai Gianna besok.” Grace terbelalak. “Gaun pengantin, Signor?” suaranya gemetar, antara terkejut dan tak percaya. “Ya,” jawab Jason pendek, nada suaranya tak memberi ruang untuk pertanyaan. “Pastikan Gianna bersiap untuk pernikahan kami besok pagi. Aku tak ingin ada satu detail pun yang kurang.” Grace masih terpaku di tempat, otaknya berusaha mencerna kata-kata itu. Pernikahan? Besok? Ia bahkan tak mendengar kabar apa pun sebelumnya. “Signor… menikah?” tanyanya pelan, nyaris berbisik. Jason menatapnya tajam, alisnya sedikit terangkat. “Ada yang salah dengan itu, Grace?” Pertanyaan itu bagaikan pisau dingin yang langsung membuat Grace menunduk dalam-dalam. “Tidak ada apa-apa, Signor. Saya hanya terkejut. Tapi tentu saja, akan saya siapkan semuanya sebaik mungkin.” Jason mengangguk pelan. “Pastikan juga Gianna tahu apa yang harus dia kenakan. Aku ingin dia tampil sempurna di altar. Tidak ada kesalahan.” “Baik, Signor,” jawab Grace cepat, suaranya bergetar namun berusaha tegas. Ia segera membungkuk dan berjalan mundur keluar dari ruangan. Begitu pintu tertutup, Jason menatap jendela besar di hadapannya. Bayangan dirinya memantul samar di kaca. Bibirnya menampilkan senyum tipis. “Besok,” gumamnya pelan, “Semuanya akan dimulai.” * * Malam di Roma tampak gelap dan lembap. Kabut tipis menyelimuti jalanan sempit yang diterangi lampu-lampu kuning redup. Di tengah suasana itu, sebuah mobil hitam melaju pelan menyusuri jalan kota tua. Di dalamnya, Romeo duduk di kursi depan, wajahnya serius menatap jalan. Beberapa pengawal Jason berada di mobil lain di belakang mereka, membentuk iring-iringan kecil yang nyaris tanpa suara. “Pastikan tidak ada yang mengikuti,” ucap Romeo tanpa menoleh, matanya tetap awas menatap peta digital di layar ponsel. “Baik, Signor Romeo,” jawab salah satu pengawal dari radio komunikasi. Mereka berhenti di sebuah gang kecil di dekat pelabuhan tua. Tempat itu sudah lama terkenal sebagai lokasi persembunyian para buronan kecil. Romeo keluar, menyampirkan jas hitamnya, lalu memberi isyarat tangan agar pengawalnya menyebar. “Cari setiap sudut. Diego Moretti tidak akan bisa bersembunyi lama di kota ini,” katanya dingin. Angin laut membawa aroma asin menusuk. Dari kejauhan terdengar suara anjing menggonggong dan rantai kapal bergemerincing pelan. Romeo berjalan menembus kabut, seolah menyatu dengan bayangan malam. Ia tahu misi ini tak mudah, Diego bukan orang bodoh. Salah satu pengawal kembali dengan laporan, “Tidak ada tanda-tanda keberadaannya di area barat, Signor.” Romeo berpikir sejenak, kemudian menatap lurus ke depan. “Kalau begitu, kita cari di sisi timur, dekat gudang tua. Orang seperti Diego pasti bersembunyi di tempat sepi.” Ia melangkah kembali ke mobil, membuka pintu dengan cepat. Tatapannya tajam, penuh tekad. “Kita harus menemukannya sebelum Sergio melakukannya,” katanya pelan namun tegas. Mobil kembali melaju menembus malam Roma, membawa perintah Jason yang tak bisa ditolak untuk menemukan Diego, hidup-hidup. Kabut malam di Roma semakin tebal ketika tim Romeo memasuki kawasan pelabuhan tua bagian timur. Derap langkah sepatu para pengawal terdengar berat di atas jalan berbatu basah. Romeo berjalan paling depan, matanya menelusuri setiap gang sempit dengan penuh waspada. Namun tiba-tiba, suara langkah kaki lain terdengar dari arah berlawanan. Ia mengangkat tangannya, memberi isyarat berhenti. Semua orang langsung diam. Dari balik kabut, muncul beberapa sosok pria berpakaian hitam dengan emblem khas keluarga Sergio di da-da mereka. Senjata di tangan mereka bersinar samar diterpa cahaya lampu pelabuhan. Salah satu dari mereka bersuara, “Kelihatannya kita punya tamu tak diundang.” Romeo menyipitkan mata. “Kalian bukan dari sini. Apa urusan kalian di wilayah ini?” Pria di depan mereka menyeringai dingin. “Kami mencari seseorang. Diego Moretti. Dan sepertinya kamu juga, bukan?” Ucapan itu membuat suasana mendadak menegang. Para pengawal Jason dan Sergio saling menatap, jari-jari mereka mulai menempel di pelatuk senjata. Hanya perlu satu gerakan kecil untuk memicu baku tembak. Romeo melangkah satu langkah maju, suaranya rendah namun tajam. “Lebih baik kalian mundur sebelum membuat masalah yang akan kalian sesali.” Pria dari tim Sergio balas menantang, “Kami juga bisa bilang hal yang sama.” Udara terasa menebal. Suara ombak memecah keheningan sesaat sebelum Romeo berbisik pelan kepada pengawalnya, “Kita tidak bisa menarik perhatian di sini. Mundur, tapi tetap awasi mereka.” Tim Jason perlahan melangkah mundur, tetap menatap tajam ke arah lawan. Kedua pihak akhirnya berpencar, tapi masing-masing tahu satu hal, perburuan Diego kini menjadi permainan dua arah, siapa yang menemukannya duluan, dialah yang akan menang. Diego keluar dari persembunyiannya dengan langkah pelan, napasnya masih memburu. Ia pikir kawasan pelabuhan itu cukup sepi untuk jadi jalan keluar. Setelah yakin tak ada suara lagi, ia berjalan menuju arah jalan utama dengan jaket lusuh menutupi wajah. Namun beberapa detik kemudian, suara langkah berat dan dengungan komunikasi radio membuatnya berhenti di tempat. Matanya membulat ketika dari dua sisi gang yang berbeda muncul dua kelompok bersenjata. Di sisi kanan, pengawal Sergio dengan wajah garang, sedangkan di sisi kiri, tim Romeo yang dikirim oleh Jason. Keduanya menatap lurus ke arahnya. “Si4l!” desis Diego pelan, tubuhnya langsung tegang. Ia tahu betul kedua kubu itu tidak akan segan menarik pelatuk begitu melihatnya. “Diego Moretti!” teriak seseorang dari tim Sergio. “Menyerah sekarang sebelum kami membuatmu menyesal!” Namun di saat bersamaan, Romeo mengangkat senjatanya. “Turun! Kamu ikut dengan kami, atas perintah Signor Jason!” Keringat dingin mengalir di pelipis Diego. Ia menatap ke kanan dan ke kiri, seperti seekor binatang yang terjebak di antara dua pemburu. Tak ada tempat aman untuk melarikan diri kali ini. “Tidak… tidak lagi,” gumamnya gemetar, sebelum tiba-tiba ia berbalik dan berlari ke arah dermaga gelap, mencoba peruntungan terakhirnya, sementara di belakang, dua kubu itu serempak berteriak dan mulai mengejar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN