Pintu diketuk perlahan dari luar. Suara lembut Grace terdengar dari balik pintu, “Signorina, sudah pagi. Saatnya sarapan.” Gianna menggeliat kecil di ranjang, membuka mata dengan berat. Ia menatap langit-langit sejenak, napasnya teratur tapi wajahnya masih terlihat lelah. Tidurnya tadi malam tidak benar-benar nyenyak. Setelah mendengar suara mobil dan bayangan tentang Jason yang datang, pikirannya terus berputar tanpa henti. Ia baru bisa memejamkan mata beberapa jam yang lalu dan kini pagi sudah menjemput terlalu cepat. “Ya, sebentar,” balas Gianna dengan suara serak. Ia bangkit perlahan, menyibakkan rambutnya yang acak-acakan lalu berjalan menuju pintu. Begitu pintu terbuka, Grace sudah berdiri di depan dengan wajah ramah seperti biasa, tangannya membawa nampan kecil berisi bunga mawar

