Eps. 13 Aku Minta Bayaran

1353 Kata
Pintu diketuk perlahan dari luar. Suara lembut Grace terdengar dari balik pintu, “Signorina, sudah pagi. Saatnya sarapan.” Gianna menggeliat kecil di ranjang, membuka mata dengan berat. Ia menatap langit-langit sejenak, napasnya teratur tapi wajahnya masih terlihat lelah. Tidurnya tadi malam tidak benar-benar nyenyak. Setelah mendengar suara mobil dan bayangan tentang Jason yang datang, pikirannya terus berputar tanpa henti. Ia baru bisa memejamkan mata beberapa jam yang lalu dan kini pagi sudah menjemput terlalu cepat. “Ya, sebentar,” balas Gianna dengan suara serak. Ia bangkit perlahan, menyibakkan rambutnya yang acak-acakan lalu berjalan menuju pintu. Begitu pintu terbuka, Grace sudah berdiri di depan dengan wajah ramah seperti biasa, tangannya membawa nampan kecil berisi bunga mawar segar. “Signorina, sarapan sudah siap di ruang makan,” ucap Grace sopan. Gianna menguap kecil sambil menutup mulutnya dengan punggung tangan. “Astaga… kenapa pagi cepat datang ya? Rasanya aku baru saja menutup mata,” keluhnya setengah bercanda. Grace tersenyum kecil. “Mungkin karena malam terlalu singkat untuk pikiran yang tidak tenang,” balasnya halus. Gianna terdiam sesaat mendengar kata-kata itu, lalu tersenyum tipis. “Kamu benar, Grace. Kadang aku berharap bisa tidur tanpa mimpi.” Ia menatap keluar jendela, sinar matahari menembus tirai, menyinari wajahnya yang masih pucat. “Baiklah,” katanya sambil menarik napas panjang. “Tolong beri aku waktu sebentar. Aku akan menyusul ke ruang makan.” “Baik, Signorina,” jawab Grace sambil menunduk hormat sebelum pergi. Gianna menatap punggungnya menghilang di balik koridor, lalu berbisik pelan, “Pagi yang cepat datang… dan misteri yang belum berakhir.” Pintu kamar Gianna baru saja tertutup, namun tiba-tiba terdengar suara kunci berputar dan daun pintu terbuka kembali. Gianna sontak menoleh, matanya membulat kaget. “Signor Jason?” serunya refleks, raut wajahnya campuran antara bingung dan gugup. Jason berdiri di ambang pintu dengan ekspresi datar, langkahnya tenang tapi mengintimidasi. “Iya,” jawabnya singkat sambil melangkah masuk. Aura dingin yang menyertai kehadirannya membuat udara kamar seolah menegang. Gianna menahan napas, mencoba menenangkan dirinya. Entah kenapa, semakin sering melihat pria itu, ia mulai terbiasa dengan tatapan tajam dan wajah tanpa ekspresinya. “Signor, terima kasih,” ucap Gianna lirih setelah menarik napas panjang. Jason mengangkat sebelah alisnya. “Untuk?” tanyanya, satu tangan masuk ke saku celana, nada suaranya tenang namun terdengar tajam. Gianna menunduk sedikit. “Untuk… semuanya. Karena kamu sudah menyelamatkanku, menampungku di sini, memberiku pakaian, juga makanan.” Jason hanya mengangguk pelan, tak berkata apa-apa untuk beberapa detik sebelum akhirnya ia berucap datar, “Apa mungkin ada lagi yang kamu minta dariku?” Nadanya seperti sedang menawar sesuatu. Gianna terdiam. Pikirannya berputar cepat. Sebenarnya, ia punya satu permintaan yang terus mengganjal di hatinya tentang ayahnya, Diego. Ia menggenggam jemarinya sendiri sebelum perlahan mendekat, menatap Jason dengan keberanian yang tersisa. “Signor,” ujarnya hati-hati, “Aku tahu ini mungkin lancang… tapi aku ingin memohon lagi satu hal. Aku harap kamu mau membantuku.” Jason menatapnya tajam. “Tergantung,” katanya pelan, “Bagaimana permintaanmu, dan apakah aku merasa perlu membantumu.” Gianna menegang sejenak, lalu akhirnya berkata, “Ayahku… dia pasti sedang dikejar oleh Signor Sergio. Karena aku kabur dari pernikahan itu. Aku takut sesuatu terjadi padanya. Signor, bisakah kamu membantuku menyelamatkan ayahku dari kejarannya?” Ruangan mendadak hening. Jason menatapnya lama tanpa emosi, tapi di matanya ada sesuatu yang sulit dibaca. Lalu, perlahan, sudut bibirnya terangkat tipis. “Permintaan yang menarik,” ujarnya datar. “Tapi aku nggak membantu tanpa alasan, Gianna.” Gianna harusnya tahu jawaban seperti apa yang akan keluar dari mulut Jason. Ia sudah bisa menebaknya sejak awal, pria itu bukan tipe yang mau menolong tanpa alasan, apalagi jika tidak ada keuntungan yang bisa ia petik. Entah kenapa Jason mau repot-repot menyelamatkannya dari pernikahan dengan Sergio, tapi satu hal yang Gianna tahu, bantuan dari pria seperti Jason pasti punya harga yang tidak murah. Ia menatap Jason dengan mata memohon, namun tatapan itu hanya dipantulkan kembali oleh sepasang mata kelam milik pria itu yang tajam, penuh kendali, dan sulit diterjemahkan. “Signor,” ucap Gianna akhirnya, suaranya pelan tapi mantap. “Bukankah kamu sendiri bilang… aku akan menjadi pengantinmu? Kalau begitu, bukankah artinya ayahku juga… ayahmu?” Untuk sesaat, keheningan menyelimuti ruangan. Jason tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Gianna dengan senyum samar di bibirnya, senyum yang membuat wanita itu sulit membedakan antara godaan atau ancaman. Langkahnya pelan tapi pasti, setiap hentakan sepatunya di lantai marmer membuat da-da Gianna semakin sesak. Dalam sekejap, Jason sudah berdiri sangat dekat, jarak di antara mereka hanya beberapa sentimeter saja. Satu tangannya terangkat perlahan, jemarinya menyentuh pucuk dagu Gianna, mengangkatnya lembut tapi tegas agar wajah wanita itu menatap lurus ke matanya. Sentuhan itu membuat Gianna menahan napas, tubuhnya kaku seketika. “Kalau begitu…” Duara Jason dalam dan berat, seolah membungkus udara di sekitarnya, “Kita akan segera menikah.” Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan dengan nada tajam yang membuat Gianna terpaku di tempat. “Dalam dua hari ke depan.” Napas Gianna tercekat. “A—apa?” suaranya nyaris bergetar. Jason tidak menjawab. Ia justru sedikit menunduk, mengikis jarak di antara mereka hingga wajahnya begitu dekat dengan wajah Gianna. Jarak yang begitu tipis hingga napas mereka saling bertemu di udara, menciptakan ketegangan yang nyaris tak tertahankan. “Aku nggak suka menunggu terlalu lama, Gianna,” bisiknya rendah, nyaris seperti ancaman yang dibungkus pesona. “Kamu ingin aku menyelamatkan ayahmu? Maka bersiaplah menjadi istriku sepenuhnya.” Gianna menatapnya dalam kebisuan. Ia tahu, sejak detik itu, hidupnya tidak lagi sama. “Tapi… tolong selamatkan ayahku, Signor. Aku bersedia menikah denganmu,” ucap Gianna akhirnya dengan suara yang bergetar, namun tegas. Mata beningnya menatap Jason penuh harap dan ketakutan sekaligus, seperti seseorang yang sedang menggantungkan seluruh hidupnya pada satu helai benang tipis. Jason tidak langsung menjawab. Ia hanya menatapnya lama, dalam diam yang terasa begitu mencekam. Tubuhnya bergerak pelan mendekat hingga jarak di antara mereka hampir lenyap. Gianna bahkan bisa merasakan hangat napas pria itu di wajahnya. Jason menunduk sedikit, bibirnya hampir menyentuh bibir Gianna. Detik itu, jantung Gianna berdegup tak karuan, bukan hanya karena takut, tapi juga karena sesuatu yang tak bisa dijelaskan. Namun sebelum bibir mereka benar-benar bersentuhan, Jason menarik dirinya mundur secepat kilat, seolah menahan sesuatu. Satu tangannya bergerak naik, berhenti di leher Gianna, menggenggam lembut tapi dengan tekanan yang cukup membuat wanita itu menahan napas. Tatapan mata Jason berubah tajam, seperti predator yang sedang memastikan mangsanya tidak kabur. “Maka kamu harus membayarku lebih untuk penyelamatan itu,” ucapnya datar, dingin, dan berat. Suaranya serupa pisau tajam yang menusuk telinga Gianna tanpa ampun. Gianna menatapnya bingung dan takut. “Maksudmu…?” Suaranya nyaris tak terdengar. Tapi Jason tak menjawab. Ia hanya menatapnya sekali lagi lama, intens, seolah sedang menandai sesuatu di wajah Gianna lalu melepaskan genggamannya perlahan dari leher wanita itu. Tanpa menoleh lagi, Jason berbalik, melangkah keluar dari ruangan dengan langkah tegas dan tak terburu-buru. Pintu menutup di belakangnya dengan bunyi pelan, namun cukup membuat Gianna terlonjak. Ia memegang lehernya sendiri yang masih terasa hangat karena genggaman Jason. “Apa maksudnya… membayar lebih?” bisiknya, napasnya masih belum stabil. * Gianna berjalan pelan menyusuri lorong panjang menuju ruang makan dengan pikiran yang terus berputar. Kata-kata Jason tadi masih terngiang jelas di telinganya. “Kamu harus membayarku lebih untuk penyelamatan itu.” Apa maksudnya? Apakah pria itu hanya menginginkan sesuatu darinya sebagai imbalan? Atau ada makna lain di balik kalimat dingin itu? Begitu tiba di ruang makan, aroma kopi dan roti panggang langsung menyambutnya, namun tak sedikit pun mampu menenangkan pikirannya. Ia menatap sekeliling, berharap melihat sosok Jason yang biasanya sudah duduk di kursi utama dengan wajah tanpa ekspresi. Tapi meja itu kosong. “Signor kemana?” tanya Gianna dengan nada hati-hati pada Grace yang sedang menyusun peralatan makan. Grace menoleh sopan. “Signor sedang berada di mejanya sendiri, Signorina.” Gianna mengerutkan kening. “Mejanya sendiri?” ulangnya pelan, sedikit bingung dengan jawaban itu. Grace hanya tersenyum tipis, lalu menunduk kembali melanjutkan pekerjaannya. “Iya, Signorina… di tempat yang biasa beliau gunakan untuk berpikir sendirian. Tidak ada yang boleh mengganggu.” Gianna terdiam, menatap arah luar jendela dengan perasaan menggantung antara ingin menemui pria itu atau menunggu sampai dia memanggil.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN