Eps. 12 Urusan Di Luar

1538 Kata
Matahari mulai condong ke barat ketika mobil hitam Jason meluncur cepat di jalanan Palermo yang padat. Suara deru mesin terdengar stabil, mencerminkan ketenangan pemiliknya. Di kursi kemudi, Romeo fokus menatap jalan, sementara Jason duduk bersandar dengan mata tajam menelusuri jendela, memantau setiap mobil yang melintas. Kota ini tampak biasa bagi orang lain, tapi bagi mereka berdua, Palermo adalah ladang bisnis dan medan peringatan bagi siapa pun yang berani menentang “Il Lupo” julukan Jason di kalangan bawah tanah. “Semua sudah disiapkan?” tanya Jason datar, tanpa menoleh. “Sudah, Signor. Gudang di pelabuhan siap untuk inspeksi. Mereka menunggu di dalam,” jawab Romeo tenang, tapi dalam suaranya ada nada waspada. Begitu tiba di pelabuhan tua dekat distrik La Cala, Jason turun. Angin asin laut bertiup tajam, membawa aroma besi dan oli kapal. Dari kejauhan, beberapa pria berpakaian gelap berdiri berjajar, menunduk hormat saat Jason lewat. Ia melangkah mantap ke dalam gudang besar yang sepi namun dijaga ketat. Di dalam, beberapa peti besar terbuka. Isinya senjata dan berlian mentah, barang hasil penyelundupan lintas laut yang baru tiba malam sebelumnya. Jason berjalan memeriksa satu per satu, jari-jarinya menyusuri kayu peti, lalu berhenti pada tanda kecil yang tampak mencurigakan. “Ini dari siapa?” tanyanya dengan tatapan dingin. “Dari kapal yang sama, Signor. Tapi tanda itu... bukan dari jaringan kita,” jawab Romeo pelan. Jason diam, kemudian tersenyum samar, senyum yang membuat udara di ruangan menegang. “Seseorang mencoba bermain di wilayahku,” ucapnya lirih namun tajam. Ia lalu mengambil pistol dari pinggang Romeo dan menembak salah satu peti.bunyi tembakan menggema keras, membuat semua orang membeku. “Cari tahu siapa yang berani menitipkan barang asing di antara kiriman kita. Aku ingin nama mereka sebelum matahari besok terbit,” katanya tenang namun berbahaya. Romeo mengangguk cepat. Jason lalu melangkah keluar dari gudang, menatap langit jingga Palermo. Di balik ketenangannya, pikirannya terus berputar antara urusan bisnis gelap yang mulai bergejolak... dan seorang wanita bernama Gianna yang kini tanpa sadar terjebak di dunianya. “Signor, ada perintah lagi?” tanya Romeo setelah duduk di kursi kemudi. Matanya melirik Jason sekilas melalui kaca spion tengah, menunggu instruksi selanjutnya. Jason diam beberapa detik, menatap ke luar jendela mobil yang diselimuti cahaya senja Palermo. Lalu bibirnya bergerak pelan, datar namun penuh wibawa. “Kita ke Kasino La Notte. Aku ingin melihat laporan pendapatan malam ini. Sekalian memastikan tak ada kebocoran di meja taruhan.” “Baik, Signor,” jawab Romeo singkat sebelum menyalakan mesin dan membawa mobil melaju cepat menembus lalu lintas kota. Kasino La Notte adalah salah satu bisnis legal Jason, setidaknya di permukaan. Di balik cahaya lampu kristal dan dentingan chip, tempat itu juga menjadi pusat pertemuan para pebisnis gelap yang ingin bernegosiasi aman di bawah perlindungan “Il Lupo”. Ketika mobil mereka berbelok ke area privat kasino, beberapa penjaga bersetelan jas hitam langsung memberi hormat. Romeo memarkir mobil di tempat khusus, sementara Jason turun dengan langkah mantap. Jas hitamnya tersampir sempurna, dan tatapannya dingin menelusuri deretan mobil mewah di parkiran. Begitu memasuki kasino, suasana riuh seketika mereda. Para dealer, pemain, hingga manajer lantai langsung menunduk hormat. Jason berjalan menuju ruangan VIP di lantai atas tanpa berkata sepatah kata pun. “Pastikan tidak ada yang curang malam ini,” ucapnya pelan sebelum menaiki anak tangga, suaranya terdengar tenang namun cukup untuk membuat siapa pun gemetar. “Ya, Signor,” balas Romeo cepat, sadar betul, ketenangan Jason justru adalah tanda bahwa badai bisa datang kapan saja. Di lantai atas, Jason memasuki ruangan VIP yang dindingnya berlapis kaca tebal. Dari sana ia bisa melihat seluruh area kasino di bawah, seolah mengamati papan permainan raksasa yang sedang ia kendalikan. Seorang manajer mendekat dengan gugup, membawa berkas laporan malam itu. “Ini data pendapatan dan pengeluaran, Signor,” ucapnya sambil menunduk. Jason mengambil berkas itu, membuka halaman pertama tanpa ekspresi. Matanya yang tajam menelusuri angka-angka cepat, lalu berhenti di satu kolom. Ia mendongak perlahan. “Mengapa ada selisih di laporan meja roulette?” Manajer itu tersentak kaget. “A–ada pemain baru, Signor. Kami masih memeriksa apakah ada kecurangan.” Jason meletakkan berkas itu di meja, berdiri, lalu berjalan mendekat dengan langkah tenang namun menekan. “Aku nggak suka alasan, hanya hasil.” Suaranya rendah tapi tegas, membuat udara di ruangan itu seolah membeku. Romeo yang berdiri di sisi pintu segera menimpali, “Aku akan urus orang itu malam ini juga, Signor.” Jason mengangguk pelan. “Pastikan dia bicara. Aku ingin tahu siapa yang berani bermain kotor di tempatku.” Ia kemudian menatap kembali ke arah lantai kasino di bawah, di mana kerumunan mulai ramai lagi dengan tawa dan suara chip yang berjatuhan. Namun di balik tatapan dinginnya, Jason tahu setiap tawa di sana bisa menyembunyikan pengkhianatan. Dan malam ini, ia berniat memastikan tidak ada satu pun yang lolos dari perhitungannya. Jason berdiri beberapa saat lebih lama di depan kaca besar itu, mengamati keramaian kasino yang berdenyut seperti jantung kota Palermo di malam hari. Lampu-lampu berkelip memantul di matanya yang dingin, namun pikirannya melayang pada sesuatu yang lain, pada rumah besar di tepi laut, dan wanita yang kini menghuni kamar di lantai atasnya. Gianna. “Signor, semuanya sudah beres. Kami bisa kembali sekarang,” ucap Romeo pelan, menghentikan lamunannya. Jason menoleh singkat, lalu berjalan pelan menuju pintu. “Pastikan semua laporan bersih. Tidak ada yang bermain curang di tempatku lagi.” “Baik, Signor.” Mereka turun ke lantai dasar, melewati deretan meja judi dan tatapan para pemain yang menunduk penuh hormat. Saat melangkah keluar dari pintu utama, angin malam Palermo menyapa, membawa aroma laut yang samar, mengingatkannya pada tempat Gianna berada. Di dalam mobil, Jason bersandar sejenak sebelum memberi perintah. “Kita pulang, Romeo.” “Ke mansion, Signor?” Jason mengangguk pelan. “Ya. Aku ingin memastikan sesuatu.” Mobil hitam itu kemudian melaju menembus jalan-jalan berbatu Palermo yang mulai sepi, meninggalkan gemerlap dunia malam menuju kesunyian pantai tempat rahasia dan permainan berikutnya menunggu. * Di sepanjang perjalanan pulang, pikiran Jason tak pernah benar-benar tenang. Tatapan matanya menembus gelapnya malam, tapi isi kepalanya dipenuhi satu nama. Gianna. Senyum samar muncul di sudut bibirnya, dingin dan berbahaya. Wanita itu bukan tipe yang mudah ditaklukkan. Ada sesuatu pada cara Gianna memandangnya, campuran ketakutan dan perlawanan yang justru membuatnya semakin tertarik. “Kapan kamu akan mulai menyerah, Gianna?” gumamnya pelan. Ia tak sabar menunggu saat wanita itu datang padanya dengan sukarela, bukan karena perintah atau paksaan. Jason mencondongkan tubuh, menatap keluar jendela mobil yang kini mulai diselimuti kabut tipis. “Kamu akan belajar tunduk padaku, sedikit demi sedikit,” batinnya dengan suara yang nyaris seperti bisikan. Gianna akan menjadi bagian dari permainannya, pion di atas papan catur besar yang sedang ia susun dengan sabar. 'Permainan ini baru saja dimulai,' pikirnya dalam hati, jemarinya mengetuk pelan sandaran tangan mobil. Sebuah rencana mulai terbentuk dalam benaknya, sesuatu yang hanya Jason tahu ujungnya akan ke mana. Dan satu hal pasti, Gianna takkan bisa lari lagi. * Gianna terlelap cukup nyenyak malam itu, tubuhnya masih terasa lelah setelah hari panjang yang penuh kebingungan. Namun ketenangan itu buyar seketika ketika suara mesin mobil terdengar berhenti di depan mansion. Ia membuka matanya perlahan, masih setengah sadar, menatap ke arah jendela yang memantulkan sedikit cahaya dari halaman luar. “Apa mungkin… itu Signor yang datang?” gumamnya pelan, suaranya masih serak karena baru bangun. Ia duduk di tepi ranjang, menyibak rambut yang menutupi wajah, pandangannya jatuh pada baju yang kini dikenakannya, baju yang diberikan Jason. Jemarinya menyentuh lembut kain itu, mengingat kembali tatapan dingin pria itu saat menyerahkannya. “Aku bahkan belum sempat berterima kasih,” bisiknya dengan nada bimbang. Ia pun berdiri perlahan, kakinya melangkah ringan menuju pintu. Setiap langkah terasa ragu, seolah di antara ingin menemui Jason dan takut menghadapi pria itu. Koridor mansion terasa sepi, hanya lampu dinding yang temaram memberi cahaya kekuningan. Ketika pandangannya jatuh pada ujung lorong, tepat di tempat kamar Jason berada, pintu besar berwarna gelap itu tampak tertutup rapat. Tak ada tanda-tanda kehidupan dari dalam. Gianna berhenti di tempat, menatap pintu itu beberapa detik, lalu menunduk pelan. “Mungkin memang dia yang datang,” gumamnya lirih, “Tapi… apa pantas aku menemuinya sekarang?” Matanya melirik jam di dinding sudah hampir tengah malam. Ia menarik napas panjang, lalu berbalik menuju kamarnya lagi. Langkahnya pelan, tapi hatinya tak tenang. Ada sesuatu yang aneh di rumah itu malam ini, sesuatu yang membuatnya sulit kembali memejamkan mata. “Kenapa aku merasa aura rumah ini semakin misterius saja… begitu juga dengan pemiliknya,” gumam Gianna pelan sambil melangkah kembali ke kamarnya. Lorong panjang itu terasa lebih sunyi dari sebelumnya, hanya bunyi detik jam dinding yang terdengar samar menemani langkah kakinya. Begitu sampai di kamar, ia menutup pintu perlahan dan bersandar sejenak di sana, mencoba menenangkan detak jantungnya yang entah kenapa berdetak lebih cepat. Pandangannya menyapu seluruh ruangan yang kini terasa terlalu luas dan terlalu tenang untuknya. Gianna berjalan ke arah ranjang, duduk perlahan di tepinya. Matanya menatap kosong ke arah jendela yang memantulkan cahaya bulan. “Aku ingin tidur lagi… tapi kenapa pikiranku nggak bisa diam?” desahnya lirih. Bayangan wajah Jason tiba-tiba muncul di benaknya, tatapan dingin, nada suara yang tegas namun sulit ditebak. Ia menarik selimut, berbaring, tapi matanya tetap terbuka lebar. Rumah ini… dan pria itu, seolah menyimpan rahasia besar yang belum terungkap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN