Napas mereka menyatu di ruang sempit antara dua wajah yang hampir bersentuhan. Hidung mereka hampir saling menyentuh, dan bibir hanya terpisah sejarak helaan napas yang gemetar. Jantung Gianna berdegup kencang bagai genderang perang, memenuhi telinganya. Saat tangan Jason yang satunya mendarat dengan mantap di pinggangnya, menariknya sedikit lebih dekat, Gianna langsung memejamkan mata rapat-rapat. Bukan karena keinginan untuk dicium, melainkan karena ketakutan yang melumpuhkan, ketakutan akan intensitas yang dia rasakan, ketakutan akan apa yang akan terjadi selanjutnya. Jason, merasakan tidak adanya perlawanan dan mata tertutup Gianna, salah mengartikannya sebagai penyerahan diri. Sebuah kemenangan kecil, sebuah kepuasan gelap. Tapi, alih-alih menutup jarak itu, dia justru menarik na

