Langit mulai gelap ketika Bima dan Arafah kembali ke depan masjid, kubah yang kokoh—tempat sekaligus saksi keduanya mengukir janji. Dua yang kini jadi sepasang itu membiarkan angin malam yang sejuk menyapu wajah mereka. Tidak ada suara kecuali hembusan angin dan langkah-langkah kecil dari anak-anak yang masih setia menemani di sana. Di antara anak-anak itu, seorang bocah laki-laki melangkah maju. Menghampiri Bima dan mengajaknya melakukan tos. Dia adalah Omar, anak berusia tujuh tahun yang pernah ditolong Bima saat perang sedang berkecamuk hebat. Mata bulatnya menatap mereka dengan penuh harap, tangannya menggenggam erat tasbih lusuh yang selalu dibawanya ke mana-mana. Dengan suara kecilnya yang bening, Omar berucap menggunakan bahasa yang hanya dimengerti Bima. "Semoga Tuhan memberka